Tuntunan Bacaan Shalat Sunat Terawih dan Witir

Tuntunan Bacaan Shalat Sunat Terawih dan Witir.- Bismillah dengan menyebut nama Allah yang Maha pengasih lagi Maha penyayang. dalam kesempatan kali ini saya akan membahas tentang Bacaan Shalat terawih dan Shalat Witir. Bagi umat Islam Shalat Terawih yang di tambah Shalat Witir sudah tidak asing lagi karena bagi umat Islam shalat sunat terawih ini sangatlah di tunggu tunggu. karena, Shalat sunat di bulan Ramadzan itu pahalanya sama dengan Shalat wajib. maka dari itu Shalat sunat Terawih ini hanya ada setahun sekali.

Shalat Terawih

Shalat terawih di lakukan satu tahun sekali yaitu pada bulan Ramadzan baik itu di kerjakan berjamaan ataupun munparid (sendiri). hukummya sunah muakad bagus nya di kerjakan berjamaah dan dilakukan setelah Shalat Isha (sebelum Shalat witir) sampai terbit fajar sidik (sebelum datang Shalat Subuh). Jumlah Rakaatnya ada 20 di tambah dengan witir 3 rakaat.

Shalat Sunat Terawih ini bisa di lakukan dengan 2 macam cara yaitu

  1. setiap 2 rakaat salam
  2. setiap 4 rakaat salam (tanpa tasyahud awal)

Akan tetapi yang paling baik cara pengerjaannya yaitu setiap 2 rakaat salam. karena, Rosulullah SAW berkata Shalat mmalam itu baiknya di lakukan atau di kerjakan 2 rakaat 2 rakaat. Nah setelah Shalat Terawih selesai, di lanjutkan dengan Shalat Witir 3 rakaat. bisa di lakukan 3 rakaat sekaligus tanpa tasyahud awal, ataupun 2 rakaat dahulu lalu 1 rakaat. pada dasarnya sama saja namun ada yang lebih baik.

pelaksanaan Shalat terawih baik doa maupun gerakannya sama saja dengan Shalat wajib. Hanya saja, niatnya yang berbeda.

Niat Shalat terawih :

apabila Shalat Terawih sendiri maka kata Ma’mumannya dihilangkan, dan apabila menjadi imam maka kata Ma’mum nya di ganti menjadi imaman.

adapun di dalam shlat terawih bacaan sunat setelah Al’fatihah itu bebas yang penting bisa. akan tetapi kalau bisa bacaan sunatnya seperti ini .

  1. Malam tanggal 1 sampai pertengahan bulan :

  • At-Takaatsur
  • Al-‘Ashr
  • Al-Humazah
  • Al-Fiil, Quraisy
  • Al-Maa’uun
  • Al-Kautsar
  • Al-Kaafiruun
  • An-Nashr
  • Al-Lahab
  • Sedangkan setiap rakaat kedua dibaca surat Al-Ikhlash.

2.  Malam pertengahan sampai malam terakhir.

Setiap rakaat pertama dibaca surat Al-Qadr. Sedangkan setiap rakaat kedua dibaca satu surat dari surat-surat berikut secara berurutan, yaitu :

  • At-Takaatsur
  • Al-‘Ashr
  • Al-Humazah
  • Al-Fiil
  • Al-Quraisy
  • Al-Maa’uun
  • Al-Kautsar
  • Al-Kaafiruun
  • An-Nashr. dan,
  • Al-Lahab.

Shalat Witir

adapun Shalat witir 3 rakaat saya selalu memakai cara yang 2 rakaat dulu lalu 1 rakaat mengikuti sunah nabi dan niat nya nya seperti ini

Niat Shalat Witir 2 Rakaat.

Dan di lanjutkan Niat Witir 1 Rakaat

Mungkin hanya itu saja yang dapat saya sampaikan Mohon maaf bila ada kesalahna kata kata saya. alangkah baiknya di klarifikasi dengan guru-guru madrasah di tempatnya agar bisa lebih baik dan benar. dan pada dasarnya jangan hanya di baca saja akan lebih baik langsung di praktekan.

dan saya menghimbau sekiranya ada waktu luang, alangkah baiknya belajar darisekarang jangan sampai pas masuk waktu ramadzan baru belajar agar tidak keteler teler. karena kebanyakan sekarang seperti itu.

untuk doa doa nya sama saja dengan doa yang lain pada umumnya. tambahan untuk niat Shalat itu ketika kita sedang takbiratul ihram dan itu di baca di dalam hati niat Shalat Sunat atau Wajib Dst. karna niat itu di dalam hati bukan di lisan

Syaikh al Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Perlu diketahui bahwasanya tempat niat ada di hati dan bukan di lisan. Karena sesungguhnya engkau beribadah kepada Dzat yang mengetahui orang yang berkhianat dan mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi di dalam hati. Allahlah Dzat yang Maha mengetahui apa yang ada di setiap dada manusia. Tentunya engkau tidak bermaksud untuk berdiri di hadapan dzat yang bodoh sehingga engkau harus mengucapkan apa yang engkau niatkan namun engkau berdiri karena takut kepadaNya karena Dia Dzat yang mengetahui was-was dalam hatimu, Dzat yang akan membalikkan hatimu. Meskipun demikian tidak ada satupun hadits shahih yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak juga dari sahabat radhiallahu’anhumbahwasanya mereka melafadzkan niat. Oleh karena itu melafadzkan niat termasuk perbuatan bid’ah yang terlarang baik dengan suara lirih maupun keras. (Syarh Al Raba’in An Nawawiyyah, Hal. 9)

Leave a Comment

%d bloggers like this: