JAKARTA – Di tengah ketegangan kawasan Timur Tengah, Selat Hormuz tetap dibuka secara terbatas oleh Iran. Sejumlah negara seperti Malaysia dan Thailand telah mendapatkan izin melintas, namun Indonesia masih harus menunggu kepastian.
Dilansir dari BBC, Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengungkapkan bahwa kapal tanker negaranya telah memperoleh izin dari pemerintah Iran. Ia menyebut proses pelepasan kapal beserta awaknya sedang berlangsung agar bisa kembali melanjutkan perjalanan.
“Kami sedang dalam proses melepaskan kapal tanker Malaysia agar bisa melanjutkan perjalanan pulang,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Baca Juga: Kebakaran Truk LPG Picu Kemacetan di Palabuhanratu, Polisi Alihkan Arus ke Cikidang
Hal serupa juga dialami Thailand. Menteri Luar Negeri Sihasak Phuangketkeow menjelaskan bahwa keberhasilan kapal negaranya melintasi selat tidak lepas dari komunikasi langsung dengan otoritas Iran.
Ia mengatakan pihaknya secara khusus meminta jaminan keamanan bagi kapal Thailand yang akan melintas, dan Iran merespons dengan memberikan fasilitasi serta pengawalan.
Di sisi lain, Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa kebijakan pelayaran di Selat Hormuz dilakukan secara selektif. Menurutnya, hanya negara yang menjalin komunikasi dan dianggap bersahabat yang diberikan akses.
Baca Juga: Api Berkobar, Truk Gas LPG Terbakar di Jalanan Palabuhanratu Sukabumi
“Selat tetap terbuka, tetapi hanya untuk negara tertentu yang berkoordinasi dengan kami,” ujarnya.
Kondisi ini berbeda dengan Indonesia. Hingga kini, dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping masih tertahan di wilayah Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz.
Perusahaan menyatakan salah satu kapal mengangkut kebutuhan energi nasional, sementara kapal lainnya melayani pihak ketiga. Meski begitu, situasi ini disebut belum mengganggu pasokan energi dalam negeri.
Baca Juga: Arus Balik Masih Padat, 23 Ribu Kendaraan Belum Kembali Lintasi Jalur Utara Sukabumi
“Keselamatan kru dan kargo menjadi prioritas kami,” ujar Vega Pita.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia masih melakukan komunikasi intensif dengan pemerintah Iran guna memperoleh izin pelayaran bagi kapal Indonesia.
Perbedaan nasib antara Malaysia, Thailand, dan Indonesia menunjukkan bahwa faktor diplomasi dan koordinasi menjadi kunci dalam mendapatkan akses di jalur strategis tersebut.

