Opini

Pancasila: Antara Hafalan dan Laku Hidup

×

Pancasila: Antara Hafalan dan Laku Hidup

Sebarkan artikel ini
Mulyawan S Nugraha. (Foto: Istimewa)

Oleh:
Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Saya sering bertanya dalam hati. Mengapa kita begitu fasih menyebut Pancasila, tetapi gagap saat menjalaninya. Seolah kita hafal bunyinya, tetapi asing dengan rohnya. Kita ramai saat upacara, tetapi sepi dalam tindakan. Padahal hidup ini bukan panggung seremonial. Ia ladang amal yang sunyi.

Tanggal 1 Juni datang tiap tahun. Kita berdiri tegak, hormat pada bendera, lalu pulang. Rutinitas itu penting, tetapi tidak cukup. Pancasila bukan sekadar tanggal. Ia seharusnya menjadi napas keseharian. Sesuatu yang hidup di pasar, di rumah, di kantor.

Kita sering kecewa pada pemimpin. Itu wajar. Mereka manusia yang bisa tergelincir. Namun jangan sampai kekecewaan itu memutus kita dari nilai. Pancasila tidak salah. Yang sering keliru adalah cara kita memahaminya.

Saya melihat Pancasila seperti mata air. Jernih di hulunya, tetapi bisa keruh di hilir. Keruh itu bukan karena airnya, tetapi karena kita yang mencemarinya. Kita ingin keadilan, tetapi kadang kita sendiri tidak adil. Kita ingin kejujuran, tetapi kita masih berkompromi.

Coba kita turunkan Pancasila ke hal kecil. Jangan jauh-jauh. Saat Anda berjanji, tepati. Saat Anda bicara, jujur. Saat Anda berbeda, tetap hormat. Itu sudah cukup menjadi pintu masuk.

Kita ini bangsa yang suka ramai. Diskusi panjang, debat panas, tetapi lupa mendengar. Padahal sila keempat mengajarkan musyawarah. Bukan sekadar bicara, tetapi juga menyimak. Bukan menang sendiri, tetapi mencari jalan bersama.

Persatuan juga sering kita salah pahami. Kita kira harus sama. Padahal justru berbeda yang dipersatukan. Indonesia tidak dibangun dari keseragaman. Ia tumbuh dari keberagaman yang dirawat.

Ada juga soal kemanusiaan. Kita mudah tersentuh di layar, tetapi kering di sekitar. Kita bisa sedih melihat berita, tetapi cuek pada tetangga. Padahal kemanusiaan itu dekat. Ia ada di depan mata.

Ketuhanan sering kita tempatkan di langit. Jauh dan tinggi. Padahal ia harus turun ke bumi. Masuk ke cara kita bekerja, berinteraksi, dan mengambil keputusan. Tuhan tidak hanya di doa. Ia juga di perilaku.

Keadilan pun begitu. Kita sering menuntut, tetapi lupa memberi. Kita ingin diperlakukan adil, tetapi belum tentu memperlakukan orang lain dengan adil. Pancasila mengajak kita mulai dari diri sendiri.

Jadi, memperingati 1 Juni itu tetap penting. Ia pengingat. Tetapi jangan berhenti di situ. Yang lebih penting adalah apa yang Anda lakukan setelahnya. Di situlah Pancasila benar-benar diuji.

Kalau Anda merasa muak melihat realitas, itu tanda masih ada nurani. Jangan dipadamkan. Ubah jadi energi. Mulai dari hal kecil. Pelan, tetapi nyata. Karena perubahan besar sering lahir dari langkah sederhana yang konsisten.