Kota Sukabumi

Dari Swadaya Jadi Viral, Anggota DPRD Sukabumi Fajar Kontara Apresiasi Potensi Kreativitas Warga

×

Dari Swadaya Jadi Viral, Anggota DPRD Sukabumi Fajar Kontara Apresiasi Potensi Kreativitas Warga

Sebarkan artikel ini
Anggota DPRD Kota Sukabumi Fajar Kontara saat menyambangi Kampung Viral di Kampung Golek di RT 01/RW 07, Kelurahan Karamat, Kota Sukabumi. (FOTO : Rizky/Sukabumiku.id)

SUKABUMI – Fenomena Kampung Golek di RT 01/RW 07, Kelurahan Karamat, Kota Sukabumi, mendapat perhatian Anggota DPRD Kota Sukabumi Komisi III sekaligus Ketua Fraksi PPP, Fajar Kontara.

Kampung yang dipenuhi ornamen seni dan budaya hasil kreativitas warga tersebut dinilai menunjukkan potensi besar masyarakat dalam mengubah lingkungan melalui gotong royong dan swadaya.

Fajar secara langsung mendatangi Kampung Golek pada Minggu malam (9/8/2026). Kunjungannya dilakukan untuk melihat dari dekat kreativitas warga yang belakangan menjadi perhatian masyarakat karena keunikan konsep lingkungan yang mengangkat karakter pewayangan dan nuansa budaya.

Menurut Fajar, fenomena Kampung Golek tidak semestinya hanya dilihat sebagai kemeriahan menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Lebih jauh, kreativitas tersebut dapat menjadi contoh bagaimana masyarakat mampu menghidupkan lingkungan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada anggaran pemerintah.

“Ini menunjukkan bahwa dengan kemauan, kreativitas dan kebersamaan, masyarakat bisa menghasilkan sesuatu yang menarik meskipun dengan anggaran yang terbatas,” kata Fajar.

Dalam kunjungan tersebut, Fajar berdiskusi dengan Ketua RW 07 U. Suwarna, Ketua RT 01 Muhammad Nur, serta sejumlah tokoh masyarakat untuk mengetahui proses lahirnya Kampung Golek.

Dari penuturan warga, gagasan tersebut berawal dari pembicaraan sederhana pada awal Juni 2026. Warga kemudian mengembangkan ide tersebut secara bertahap hingga muncul berbagai ornamen, termasuk karakter pewayangan seperti Bima dan Gatotkaca.

Yang menarik, seluruh proses pembangunan dilakukan secara swadaya. Warga memanfaatkan kas RT dan RW dengan total anggaran sekitar Rp5 juta tanpa mengandalkan donatur.

Fajar menilai pola tersebut menjadi poin penting yang patut diapresiasi. Menurutnya, kekuatan utama Kampung Golek bukan semata pada ornamen yang menghiasi lingkungan, tetapi pada proses kebersamaan warga dalam menciptakan dan merawatnya.

“Yang paling penting adalah semangat gotong royongnya. Kreativitas seperti ini lahir dari masyarakat sendiri dan justru itu yang harus kita jaga,” ujarnya.

Namun, Fajar mengingatkan agar perhatian terhadap Kampung Golek tidak berhenti setelah momentum perayaan kemerdekaan atau ketika pemberitaan mengenai kampung tersebut mulai mereda.

Ia berharap Pemerintah Kota Sukabumi dapat melihat potensi tersebut sebagai bagian dari pengembangan kreativitas masyarakat. Dukungan pemerintah, menurutnya, dapat diarahkan pada penguatan kegiatan seni dan budaya, kebersihan lingkungan, hingga pengembangan potensi kampung agar memiliki manfaat yang berkelanjutan.

Fajar juga mendorong agar kampung-kampung lain di Kota Sukabumi tidak sekadar meniru bentuk ornamen Kampung Golek, tetapi mengambil semangat di baliknya, yakni membangun lingkungan melalui kreativitas dan partisipasi masyarakat.

“Harapannya bukan hanya viral dan meriah saat Hari Kemerdekaan. Bagaimana kreativitas ini bisa terus dijaga, menjadi contoh bagi kampung lain, sekaligus menjaga budaya, lingkungan hidup dan kebersihan di lingkungan masing-masing,” tuturnya.

Kampung Golek sendiri menjadi gambaran bahwa keterbatasan anggaran tidak selalu menjadi penghalang bagi masyarakat untuk menghasilkan karya. Dengan swadaya, ide kreatif dan kekompakan warga, lingkungan permukiman dapat diubah menjadi ruang yang memiliki nilai seni sekaligus memperkuat rasa kebersamaan.