SUKABUMI – Nuansa budaya Sunda yang mewarnai puncak peringatan Hari Jadi Kabupaten Sukabumi (HJKS) ke-156 menjadi momentum penting untuk kembali mengingat sejarah dan menjaga warisan tradisi daerah.
Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Sukabumi, Sendi Apriadi, mengatakan, Sekar Budaya bukan sekadar rangkaian hiburan dalam peringatan hari jadi daerah. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga identitas dan warisan budaya Sukabumi.
“Sekar Budaya bukan hanya pertunjukan seni, tetapi pengingat bahwa Sukabumi memiliki warisan sejarah dan tradisi yang harus terus dirawat serta diwariskan kepada generasi mendatang,” ujar Sendi Apriadi, Sabtu (12/9/2026).
Baca Juga: Broken Versus Festival Siap Guncang Sukabumi, Satukan Dua Era dalam Sejuta Cerita Cinta
Beragam kesenian tradisional, penggunaan bahasa Sunda hingga pakaian adat turut mewarnai gelaran tersebut. Salah satu prosesi yang menarik perhatian adalah penyatuan air dari berbagai wilayah Kabupaten Sukabumi ke dalam sebuah kendi.
Prosesi itu menjadi simbol kebersamaan dan keterikatan masyarakat dari berbagai wilayah yang bersama-sama membangun Kabupaten Sukabumi.
Bagi Disperkim, nilai kebersamaan yang tergambar dalam Sekar Budaya menjadi bagian penting dalam perjalanan pembangunan daerah. Pembangunan tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur dan kawasan permukiman, tetapi juga harus tetap berpijak pada identitas, sejarah dan nilai budaya masyarakat.
Di tengah perkembangan zaman, pelestarian tradisi dinilai menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, momentum HJKS ke-156 diharapkan mampu memperkuat kepedulian seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, agar budaya lokal tidak kehilangan tempat di tanah kelahirannya.
Sekar Budaya pun menjadi pengingat bahwa perjalanan Sukabumi selama 156 tahun bukan hanya tentang pembangunan yang terus bergerak maju, tetapi juga tentang bagaimana menjaga akar sejarah dan budaya agar tetap hidup untuk generasi berikutnya.

