Kota Sukabumi

Harga Pertamax Melonjak, Ojol di Kota Sukabumi Ramai-Ramai Beralih ke Pertalite

×

Harga Pertamax Melonjak, Ojol di Kota Sukabumi Ramai-Ramai Beralih ke Pertalite

Sebarkan artikel ini
Salahsatu Ojol yang beraktivitas di Kota Sukabumi saat diwawancarai wartawan. (FOTO : Rizky Miftah/Sukabumiku.id)

SUKABUMI – Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026 berdampak langsung terhadap para pengemudi ojek online (ojol) di Sukabumi. Demi menekan biaya operasional harian, banyak pengemudi kini memilih beralih ke Pertalite yang dinilai lebih terjangkau.

Di sejumlah SPBU wilayah Sukabumi, para pengemudi mengaku harus menyesuaikan pola pengeluaran setelah harga Pertamax mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Kondisi tersebut membuat mereka mempertimbangkan kembali penggunaan BBM yang selama ini menjadi pilihan utama.

BACA JUGA : Harga Pertamax Melonjak, Masyarakat Kota Sukabumi Khawatir Efek Domino ke Kebutuhan Pokok

Randi (31), salah seorang pengemudi ojol, mengatakan bahwa selama ini dirinya menggunakan Pertamax karena dianggap mampu menjaga performa motor yang digunakan untuk bekerja setiap hari. Namun, kenaikan harga membuatnya tidak memiliki banyak pilihan selain beralih ke Pertalite.

Menurutnya, sebelum kenaikan harga, pengisian Pertamax dengan nominal tertentu masih cukup untuk menunjang aktivitas harian. Kini, jumlah BBM yang diperoleh semakin sedikit sehingga biaya operasional menjadi lebih besar.

Meski memahami kebijakan penyesuaian harga BBM, Randi mengaku menyayangkan kenaikan yang terjadi. Ia menilai Pertamax memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan Pertalite, terutama dari sisi performa kendaraan dan efisiensi penggunaan bahan bakar.

“Kalau pakai Pertamax tarikan motor terasa lebih ringan dan nyaman. Saat menggunakan Pertalite memang terasa ada perbedaan, terutama pada performa kendaraan,” ujarnya.

BACA JUGA : Dampak Kenaikan BBM, Pengguna Pertamax di Surade Beralih ke Pertalite

Selain performa, ia juga menilai konsumsi Pertalite cenderung lebih boros dibandingkan Pertamax sehingga membuat pengeluaran bahan bakar tetap perlu diperhitungkan secara cermat.

Hal senada disampaikan pengemudi ojol lainnya yang mengaku kenaikan harga BBM berdampak langsung terhadap biaya operasional harian. Menurutnya, pengeluaran untuk bahan bakar meningkat sementara pendapatan tidak selalu mengalami kenaikan yang sebanding.

Ia juga menyoroti beban lain yang harus ditanggung pengemudi, termasuk potongan aplikasi yang disebut mengalami peningkatan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut membuat para pengemudi harus semakin cermat mengatur penghasilan agar tetap dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Diketahui, harga Pertamax per 10 Juni 2026 ditetapkan sebesar Rp16.250 per liter. Kenaikan tersebut membuat sebagian pengemudi ojol mulai mengevaluasi kembali pengeluaran operasional mereka dan mencari alternatif yang lebih ekonomis.

Di tengah persaingan dan tuntutan mencari penghasilan setiap hari, penggunaan BBM yang lebih murah menjadi pilihan yang dianggap paling realistis. Namun, keputusan tersebut harus dibayar dengan penurunan kenyamanan dan performa kendaraan yang selama ini mereka rasakan saat menggunakan Pertamax.