JAKARTA – Upaya mewujudkan kemandirian energi Indonesia tidak hanya mengandalkan tanaman sebagai bahan baku bahan bakar, tetapi juga mulai menyasar limbah pertanian dan sampah plastik.
Dikutip dari SukabumiKu.id, Senin (14/9/2026), terdapat dua inovasi energi berbasis limbah yang dikembangkan di Indonesia, yakni Bobibos yang memanfaatkan jerami padi dan Petasol yang mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar.
Pengembangan bahan bakar alternatif tersebut sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil impor.
Baca Juga : Resep Smoothies Tahu Bayam, Minuman Sehat ala Kafe yang Mudah Dibuat
Dalam salah satu pidatonya pada Juli 2026, Prabowo menyebut para profesor Indonesia tengah mengembangkan bensin berbahan dasar kelapa sawit serta etanol dari singkong, jagung, dan sorgum.
Presiden menargetkan Indonesia mampu memproduksi bahan bakar dari tanaman dalam tiga hingga empat tahun ke depan.
Gagasan mengenai pemanfaatan sumber daya domestik sebagai energi alternatif juga telah disampaikan Prabowo sejak dilantik pada Oktober 2024. Saat itu, ia menyebut singkong, tebu, dan sagu sebagai sejumlah sumber energi yang dapat dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Bobibos dari jerami padi
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Bobibos, akronim dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos.
Baca Juga : Resep Es Jelly Kuah Susu, Segar dan Cocok untuk Cuaca Panas
Bobibos dikembangkan oleh M Ikhlas Thamrin melalui riset mandiri selama lebih dari 10 tahun. Produk tersebut kemudian diperkenalkan kepada publik di Jonggol, Kabupaten Bogor, pada November 2025 melalui PT Inti Sinergi Formula.
Tim peneliti sebelumnya sempat menguji sejumlah bahan baku, seperti tebu, singkong, dan mikroalga. Namun, jerami padi dinilai paling efisien dari sisi biaya produksi karena ketersediaannya melimpah di sentra pertanian.
Berdasarkan hasil uji Lembaga Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM pada April 2026, varian bensin Bobibos tercatat memiliki angka oktan riset atau RON 98,1 menggunakan metode ASTM D 2699-19e1.
Hasil tersebut kemudian membuat Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM meminta pengembangan Bobibos difokuskan terlebih dahulu pada lini bensin.
Pengembang Bobibos menyebut bahan bakar tersebut berasal dari material organik tumbuhan dan menghasilkan emisi gas buang yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar berbasis fosil.
Pemanfaatan jerami juga dinilai dapat memberikan nilai ekonomi tambahan bagi petani. Satu hektare sawah yang menghasilkan sekitar sembilan ton jerami diklaim dapat diolah menjadi sekitar 3.000 liter Bobibos.
Dengan demikian, jerami yang sebelumnya kerap dibakar setelah panen dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku energi.
Pengembangan Bobibos bahkan telah diperluas ke tingkat regional. PT Inti Sinergi Formula menjalin kerja sama dengan Timor Agranova SA untuk pengembangan dan produksi massal Bobibos di Timor Leste.
Uji coba juga telah dilakukan pada sejumlah kendaraan, mulai dari sepeda motor Honda BeAT hingga kendaraan bermesin diesel Nissan Navara.
Petasol dari sampah plastik
Selain limbah pertanian, sampah plastik juga mulai dimanfaatkan sebagai bahan baku bahan bakar alternatif.
Inovasi tersebut dikembangkan Bank Sampah Banjarnegara (BSB), Jawa Tengah, melalui teknologi bernama Faspol 5.0.
Teknologi tersebut dikembangkan Budi Trisno Aji sejak 2019 dan kini telah memasuki generasi kelima.
Faspol 5.0 menggunakan metode fast pyrolysis untuk mengolah sampah plastik, seperti kantong plastik, kemasan mi instan, dan styrofoam, menjadi bahan bakar yang diberi nama Petasol.
Proses tersebut dilakukan dengan memanaskan material tanpa oksigen serta menggunakan katalis dan teknologi plasma.
Menurut keterangan yang dikutip SukabumiKu.id, setiap 50 kilogram sampah plastik dapat menghasilkan sekitar 30 liter bahan bakar setara solar, 10 liter setara bensin, dan 5 liter minyak tanah.
Sementara itu, mesin dengan kapasitas lebih besar disebut mampu mengolah sekitar 200 kilogram sampah menjadi 170 hingga 180 liter Petasol dalam satu kali produksi.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turut mendampingi proses pengujian teknologi tersebut sejak 2022. Hasil pengujian kemudian diverifikasi Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas).
Berdasarkan hasil pengujian tersebut, kualitas Petasol disebut memiliki karakteristik yang setara dengan Pertamax untuk jenis bensin dan mendekati Pertamina Dexlite untuk jenis solar.
Pemanfaatan Petasol juga telah dilakukan masyarakat di Desa Kasilib, Kecamatan Wanadadi, Banjarnegara. Bahan bakar tersebut digunakan untuk mengoperasikan mesin pertanian dan kendaraan bermotor.
Pengembangan teknologi Faspol 5.0 juga disebut telah meluas ke sejumlah daerah. Lebih dari 52 mitra di berbagai wilayah, termasuk di luar Pulau Jawa, telah mengadopsi mesin serupa.
Salah satunya berada di sebuah desa di Kudus yang sejak 2022 mengoperasikan mesin pirolisis untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar bagi kebutuhan masyarakat setempat.
Dua inovasi tersebut menunjukkan potensi pemanfaatan limbah sebagai bagian dari pengembangan energi alternatif di Indonesia.
Selain berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, pemanfaatan jerami dan sampah plastik juga dapat menjadi bagian dari upaya mengatasi persoalan limbah sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.(SE)

