Berita Utama

Kemarau Mulai Melanda, 340 KK di Cikundul Hilir Kota Sukabumi Alami Krisis Air Bersih

×

Kemarau Mulai Melanda, 340 KK di Cikundul Hilir Kota Sukabumi Alami Krisis Air Bersih

Sebarkan artikel ini
PMI Kota Sukabumi saat menyalurkan air bersih kepada warga terdampak kekeringan di Cikundul. (FOTO : Rizky/Sukabumiku.id)

SUKABUMI – Dampak musim kemarau mulai dirasakan warga Kota Sukabumi. Sedikitnya 340 kepala keluarga (KK) di Kampung Cikundul Hilir RW 04, Kelurahan Cikundul, Kecamatan Lembursitu, mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat menyusutnya sumber air yang selama ini menjadi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran awal ancaman kekeringan yang mulai meluas setelah Pemerintah Kota Sukabumi menetapkan status Siaga Darurat Bencana Kekeringan yang berlaku sejak 1 Juli hingga 30 September 2026.

Merespons kondisi itu, Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Sukabumi bersama Perumda Air Minum Tirta Bumi Wibawa bergerak cepat menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak.

Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Kota Sukabumi, Imran Wardhani, mengatakan berdasarkan laporan yang diterima, terdapat sekitar 340 KK yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih akibat musim kemarau.

“Kami menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 10 ribu liter dalam dua kali ritase menggunakan mobil tangki. Masing-masing ritase membawa 5 ribu liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujar Imran.

Selain PMI, Perumda Air Minum Tirta Bumi Wibawa juga menyalurkan bantuan sebanyak 45 ribu liter air bersih, sehingga total bantuan yang didistribusikan mencapai 55 ribu liter.
Menurut Imran, penanganan dampak kekeringan tidak bisa dilakukan oleh satu instansi saja.

Diperlukan kolaborasi lintas sektor agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.

“Bantuan ini merupakan respons cepat atas permohonan dari pemerintah kelurahan. Kami terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Sukabumi, BPBD, Perumda Tirta Bumi Wibawa, serta berbagai pihak lainnya untuk memantau wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami krisis air bersih,” katanya.

Ia menambahkan, masyarakat yang mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih diimbau segera melaporkan kondisi tersebut kepada pemerintah kelurahan maupun kecamatan. Dengan begitu, kebutuhan warga dapat segera diinventarisasi dan ditindaklanjuti melalui mekanisme penanganan darurat.

Kondisi di Cikundul Hilir menjadi peringatan bahwa dampak kemarau tidak hanya mengancam sektor pertanian, tetapi juga menyentuh kebutuhan paling mendasar masyarakat, yakni akses terhadap air bersih.

“Apabila curah hujan belum kembali normal dalam beberapa pekan ke depan, jumlah wilayah terdampak diperkirakan akan terus bertambah sehingga diperlukan langkah antisipasi yang lebih masif,” tutupnya.