SUKABUMI – Bencana pergerakan tanah melanda Kampung Cijambe, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi. Peristiwa yang dipicu hujan berintensitas tinggi ini memaksa warga meninggalkan rumah mereka. Sebanyak 104 kepala keluarga atau 324 jiwa kini bertahan di tenda darurat, Senin (2/03/2026).
Camat Bantargadung, Rahmat Sarifudin, mengatakan hasil peninjauan lapangan bersama unsur Forkopimcam menemukan kondisi lereng di bagian hulu sudah gundul. “Kami cek sampai ke lokasi paling atas, lerengnya memang dalam kondisi gundul. Pohon-pohon sudah terpotong habis,” ujarnya.
Menurutnya, minimnya vegetasi membuat tanah kehilangan daya ikat sehingga mudah bergerak saat hujan turun deras.
Baca Juga: Barba Waspadai Kekuatan Persebaya, PERSIB Bidik Tiga Poin di Surabaya
Ia menambahkan, tanpa penghijauan, kawasan tersebut menjadi sangat rawan bencana. “Kondisi tanpa tutupan vegetasi ini membuat tanah cepat bergeser ketika hujan dengan intensitas tinggi,” kata Rahmat, seraya menyebut faktor alam dan aktivitas manusia saling memperparah risiko.
Lokasi pengungsian berada tepat di samping Puskesmas Bantargadung. Kepala Puskesmas Bantargadung, Siska Santika, memastikan pelayanan kesehatan dibuka penuh untuk para penyintas.
“Kami siagakan petugas piket 24 jam. Warga bisa langsung mengakses layanan kapan pun dibutuhkan karena tenda darurat menempel dengan gedung puskesmas,” tuturnya.
Siska menyampaikan, hingga saat ini kondisi kesehatan pengungsi relatif stabil. “Belum ada penyakit menular yang muncul. Hanya satu warga mengalami luka ringan akibat terjatuh saat proses evakuasi barang,” ucapnya.
Baca Juga: Bahas Kasus Kematian Nizam, Kapolres Sukabumi Hadiri RDP Komisi III DPR RI
Pihak puskesmas juga telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi untuk menjamin ketersediaan obat-obatan bagi warga terdampak.
Di tengah situasi darurat tersebut, persoalan konsumsi menjadi perhatian, terlebih bencana terjadi saat bulan Ramadan. Rahmat Sarifudin mengungkapkan pendirian dapur umum resmi masih menunggu penetapan status darurat bencana melalui surat keputusan bupati.
“Sambil menunggu prosedur dari Dinsos dan BPBD, kami berinisiatif bekerja sama dengan dapur Program Makan Bergizi Gratis agar kebutuhan sahur dan buka puasa warga tetap terpenuhi,” katanya.
Pemerintah kecamatan bersama pemerintah desa saat ini terus melakukan pendataan by name by address, termasuk menginventarisasi jumlah bayi dan anak-anak. Data tersebut akan menjadi dasar penyaluran bantuan logistik dan layanan lanjutan agar tepat sasaran, sekaligus sebagai bahan evaluasi penanganan bencana di wilayah Bantargadung.

