SUKABUMI – Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cikundul, Kota Sukabumi, masih dalam penanganan petugas setelah berlangsung selama tiga hari sejak Sabtu hingga Senin.
Ratusan personel gabungan dari TNI, Polri, pemerintah daerah, mahasiswa hingga elemen masyarakat dikerahkan untuk membantu proses pemadaman dan pendinginan di lokasi.
Kapolres Sukabumi Kota AKBP Sentot Kunto Wibowo mengatakan, pihak kepolisian sendiri menerjunkan sekitar 150 personel dalam penanganan kebakaran tersebut.
“Untuk Polri kita hari ini menerjunkan 150 personel. Dari Kodim dan Batalyon juga menerjunkan 100 personel,” ujar Sentot.
Menurutnya, secara keseluruhan terdapat sekitar 400 personel gabungan yang mengikuti apel kesiapsiagaan pada Senin pagi sekitar pukul 08.00 WIB.
Personel tersebut terdiri dari TNI, Polri, pemerintah daerah beserta perangkat dinas, mahasiswa serta sejumlah elemen masyarakat.
“Total tadi pada saat apel pagi sekitar 400 personel gabungan. Semua elemen bergabung dan saat ini semuanya melakukan pemadaman,” katanya.
Pemadaman Dibagi Tiga Sektor
Sentot menjelaskan, strategi penanganan kebakaran dilakukan dengan membagi kawasan terdampak menjadi tiga sektor, yakni sektor A, B dan C.
Masing-masing sektor mendapatkan penanganan melalui dua pola utama, yaitu pemadaman langsung dan penguraian timbunan sampah.
“Polanya adalah satu pemadaman. Sisa-sisa api yang tersebar kita padamkan. Kemudian yang kedua penguraian,” jelasnya.
Dalam proses penguraian, petugas menggunakan alat berat untuk membongkar atau mengurai timbunan sampah. Secara bersamaan, petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air ke bagian yang telah diurai.
Cara tersebut dilakukan untuk menjangkau bara api yang berada di bagian dalam timbunan sampah.
“Begitu diurai, air masuk. Harapannya bara-bara api yang ada di dalam yang tidak bisa dipadamkan karena pengerukan, air bisa masuk,” ungkapnya.
Setelah proses pemadaman dan pendinginan, penanganan tidak langsung dinyatakan selesai. Petugas akan melakukan pemeriksaan kembali menggunakan alat pendeteksi suhu.
Basarnas dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) nantinya akan melakukan pengecekan menggunakan alat termal untuk mengetahui titik-titik yang masih memiliki suhu tinggi.
“Nanti diukur mana suhu yang masih tinggi, mana yang masih ada bara api di dalamnya. Setelah itu kita cooling down lagi,” katanya.
Terkendala Ketersediaan Air
Salah satu kendala utama dalam proses pemadaman di TPA Cikundul adalah ketersediaan sumber air.
Sentot menyebut sumber air terdekat berada di Sungai Cimandiri. Namun, jaraknya membuat proses pengisian dan pengangkutan air menjadi kurang efektif.
“Yang paling dekat sumber air adalah Sungai Cimandiri. Jaraknya, kalau perhitungan bolak-balik sekitar setengah jam, jadi tidak efektif,” ungkapnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pihaknya telah menyiapkan sekitar 15 tangki air di sekitar lokasi.
Langkah tersebut dilakukan agar kendaraan pemadam tidak harus terlalu sering bolak-balik mengambil air.
“Makanya kita juga sudah standby menyediakan 15 tangki air biar pemadam tidak bolak-balik,” ujarnya.
Rencana Bangun Sumber Air Permanen
Selain penanganan darurat, kepolisian bersama Pemerintah Kota Sukabumi juga mulai membahas solusi jangka panjang untuk mengatasi keterbatasan sumber air di kawasan TPA Cikundul.
Sentot menyebut salah satu opsi yang dibahas adalah pembangunan sumber air baru, seperti sumur bor atau penampungan air di sekitar kawasan TPA.
“Kemungkinan kita akan bangun beberapa sumber air. Entah itu nanti sumur bor yang ada di sekitar sini, ataupun kita bangun penampungan air,” katanya.
Menurutnya, penyediaan sumber air tersebut penting sebagai langkah antisipasi apabila kembali terjadi kebakaran di kawasan TPA.
Polisi Selidiki Penyebab Kebakaran
Di tengah proses pemadaman, Polres Sukabumi Kota juga melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab kebakaran.
Sentot mengatakan, penyelidikan membutuhkan waktu karena petugas harus memastikan titik awal api sekaligus mencari tahu penyebab munculnya kebakaran.
“Ya, pasti. Dari pihak Polres khususnya kita juga sudah melakukan penyelidikan. Tentunya ini butuh waktu karena kita harus benar-benar mencari titik sumbernya di mana, kemudian apa penyebabnya,” tegasnya.
Namun, untuk sementara pihak kepolisian masih memprioritaskan proses pemadaman dan memastikan api serta bara dapat dikendalikan.
Sentot juga menegaskan, apabila dalam penyelidikan ditemukan adanya unsur kesengajaan, pihak kepolisian akan mengambil langkah hukum.
“Kalau memang ada indikasi adanya kesengajaan dibakar, kita akan proses sesuai hukum yang berlaku. Kita tidak tebang pilih, kita akan tegak lurus,” tegasnya.
Munculnya titik api di lokasi berbeda juga menjadi salah satu hal yang akan didalami kepolisian.
Menurut Sentot, munculnya api di titik lain tidak serta-merta dapat disimpulkan sebagai akibat pembakaran baru. Ada sejumlah kemungkinan teknis yang masih harus diteliti.
“Faktor-faktor lainnya memang banyak. Entah faktor angin, mungkin terbawa angin, sampah pada titik pertama kemudian tiba-tiba pindah ke titik dua,” jelasnya.
Selain itu, bara api yang berada di bagian bawah timbunan sampah juga memungkinkan api menjalar ke area lain dan kembali muncul ke permukaan.
“Kalau masih dalam satu area, bisa jadi bara yang di dalam itu menjalar pindah. Tiba-tiba muncul apinya di titik yang lain,” katanya.
Karena itu, polisi masih melakukan penyelidikan untuk memastikan sumber dan penyebab kebakaran secara menyeluruh.
Sementara itu, seluruh personel gabungan masih disiagakan di lokasi untuk melakukan pemadaman, penguraian timbunan sampah dan pendinginan hingga kondisi TPA Cikundul benar-benar aman dari potensi munculnya kembali titik api.

