SUKABUMI – Seorang remaja putri asal Kampung Cibatu, RT 20/RW 19, Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, berinisial RR (23), menjadi korban sindikat tindak pidana perdagangan orang (TPPO) lintas negara. Saat ini, ia dikabarkan disekap di Cina dan dipaksa melayani nafsu pria hidung belang. Keluarga hanya bisa berharap pemerintah Indonesia segera memulangkannya.
Sepupu korban, ST (40), mengatakan bahwa RR sebelumnya bekerja di sebuah pabrik PT GSI. Sejak lama, ia bercita-cita merantau ke Jepang secara legal melalui sekolah bahasa. Namun, keinginan itu kandas setelah ia tergoda tawaran manis dari seseorang yang dikenalnya lewat media sosial Facebook.
“Pelaku menjanjikan gaji Rp15 sampai Rp30 juta per bulan kalau mau kerja di luar negeri. Tawaran itu membuatnya yakin. Dia lalu diarahkan mulai dari bikin paspor di Bogor, bukan di Sukabumi, sampai akhirnya dibawa ke Jakarta dan diterbangkan ke Cina,” ungkap ST.
Yang lebih mengejutkan, korban sempat dipaksa menikah dengan menghadirkan orang yang mengaku wali dan saksi sebelum diberangkatkan. Setibanya di Cina, ia dijemput seorang pria bernama To Chao Cai, yang kemudian menahan RR.
Selama hampir dua bulan, keluarga kehilangan kontak. Hingga akhirnya, ibunda korban menerima pesan mengejutkan melalui aplikasi WeChat.
“Dia bilang disekap di Cina, bahkan sempat kirim lokasi. Dari situ kami yakin dia benar-benar jadi korban perdagangan orang,” tutur ST.
Awalnya RR mengaku bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART). Namun saat didesak, ia menangis dan mengaku dijadikan pemuas nafsu. Lebih ironis, RR tidak pernah menerima gaji.
“Kata orang yang menahannya, ‘kamu sudah saya beli. Kalau mau pulang, bayar Rp200 juta’. Itu yang bikin keluarga panik,” jelas ST dengan suara bergetar.
Bagi keluarga RR yang hidup sederhana di pedesaan, uang tebusan sebesar Rp200 juta jelas mustahil dipenuhi. Satu-satunya harapan mereka adalah bantuan pemerintah dan aparat penegak hukum untuk segera menyelamatkan RR.
“Sudah hampir tiga bulan dia di sana tanpa kepastian. Kami mohon aparat segera bertindak. Ini bukan hanya soal kerja ilegal, tapi soal nyawa saudara kami,” pungkasnya. (Ky)

