Berita Utama

Keluarga Korban TPPO di China Asal Cisaat Sukabumi Akhirnya Dipanggil Gubernur Jawa Barat KDM

×

Keluarga Korban TPPO di China Asal Cisaat Sukabumi Akhirnya Dipanggil Gubernur Jawa Barat KDM

Sebarkan artikel ini
KDM saat berbincang dengan keluarga korban TPPO asal Cisaat Sukabumi di Kediamannya. Foto/SC Instagram KDM

SUKABUMI – Kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang menimpa Reni Rahmawati (24), warga Kampung Cibatu, Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, terus menjadi perhatian publik. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, bahkan memanggil keluarga korban untuk mendengar langsung kronologi awal peristiwa yang menjerat Reni hingga disekap di Cina.

Dalam video yang diunggah di akun pribadinya, Kang Dedi terlihat berbincang dengan paman korban, Sigit (40). Ia menjelaskan, sebelum menjadi korban, Reni sempat bekerja sebagai pegawai kontrak di salah satu pabrik di Sukabumi selama tiga bulan. Namun, setelah kontraknya habis, Reni tidak lagi memiliki pekerjaan tetap.

“Awalnya korban tidak pernah main HP. Tiba-tiba, setelah sudah berada di Cina hampir dua bulan, dia mengabari saya minta pertolongan. Waktu itu saya tidak langsung menyampaikan ke ibunya karena khawatir ibunya kaget,” tutur Sigit.

Sigit menambahkan, motor milik Reni sempat dititipkan di rumah temannya sebelum keberangkatan. Dari situ, komunikasi keluarga terputus. Belakangan terungkap, Reni dibawa oleh temannya yang menjanjikan pekerjaan ke luar negeri. “Pertemuan awalnya di Cugenang, Cianjur. Lalu dijanjikan lagi ketemu di Bogor untuk ke kantor sponsor penyalur kerja ke Cina,” jelasnya.

Setelah sempat pulang ke rumah tanpa menunjukkan gelagat mencurigakan, Reni kembali pergi seminggu kemudian. Sejak saat itu, keluarga tidak pernah lagi mendapat kabar hingga akhirnya mengetahui bahwa ia menjadi korban TPPO dan dipaksa melayani pria hidung belang.

Sepupu korban, ST (40), menuturkan bahwa Reni sejak lama bercita-cita merantau ke Jepang secara legal melalui sekolah bahasa. Namun, keinginan itu kandas setelah ia tergoda tawaran kerja dari seseorang yang dikenalnya lewat Facebook. “Pelaku menjanjikan gaji Rp15 sampai Rp30 juta per bulan. Dari situ dia diarahkan bikin paspor di Bogor, bukan di Sukabumi, sampai akhirnya dibawa ke Jakarta dan diterbangkan ke Cina,” kata ST.

Yang mengejutkan, sebelum berangkat, Reni sempat dipaksa menikah dengan menghadirkan orang yang mengaku wali dan saksi. Setibanya di Cina, ia dijemput seorang pria bernama To Chao Cai yang kemudian menyekap dan menahannya.

Selama hampir dua bulan, keluarga kehilangan kontak. Hingga akhirnya, ibunda korban menerima pesan melalui aplikasi WeChat. “Dia bilang disekap di Cina, sempat kirim lokasi. Dari situ kami yakin dia benar-benar jadi korban perdagangan orang,” jelas ST.

Reni semula mengaku bekerja sebagai asisten rumah tangga. Namun, ketika didesak, ia menangis dan mengaku dijadikan pemuas nafsu tanpa menerima gaji. Lebih ironis, pelaku meminta tebusan Rp200 juta untuk bisa memulangkannya.

“Bagi kami yang hidup sederhana, jelas mustahil memenuhi permintaan itu. Harapan kami hanya pemerintah bisa segera menolong,” ungkap ST dengan suara bergetar.

Hingga kini, keluarga hanya bisa berharap pemerintah Indonesia segera bertindak tegas untuk menyelamatkan Reni dari sindikat perdagangan orang lintas negara tersebut. (Ky)