SUKABUMI – Fenomena hujan es merupakan salah satu kejadian cuaca ekstrem yang mampu membuat banyak orang terkejut.
Hujan es biasanya terjadi ketika butiran es jatuh dari awan Cumulonimbus yang sangat tinggi dan dingin, dengan suhu di puncaknya bisa mencapai di bawah -55 derajat Celcius.
Butiran es terbentuk dari uap air yang membeku di lapisan atas awan dan terbawa oleh arus udara naik (updraft) hingga menjadi besar dan berat untuk kemudian jatuh ke permukaan bumi.
Fenomena ini sering terjadi pada masa peralihan musim dan dapat datang disertai angin kencang serta petir.
Di Indonesia, fenomena kerap muncul secara tiba-tiba dan dalam waktu singkat, seperti yang pernah terjadi di beberapa wilayah seperti Jakarta, Bogor, dan Yogyakarta, menimbulkan gangguan hingga kerusakan ringan pada lingkungan sekitar.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi atmosfer yang sangat labil, suhu permukaan yang hangat, dan kelembapan tinggi sangat mendukung terbentuknya awan Cumulonimbus secara intensif sehingga munculnya fenomena menjadi mungkin.
Masyarakat diimbau untuk selalu waspada terhadap potensi cuaca ekstrim ini terutama pada masa pancaroba agar dapat mengantisipasi dampaknya.
Ciri-ciri hujan es yang khas meliputi awal mula udara terasa panas dan gerah, muncul awan gelap yang cepat berkembang, diikuti turunnya hujan deras disertai butiran es dan angin kencang.
Fenomena ini juga memiliki makna spiritual dalam pandangan Islam.
Dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 43, Allah SWT menjelaskan proses terbentuknya hujan es sebagai bukti kekuasaan-Nya yang mengatur awan secara bertahap, mengumpulkannya hingga menjadi berat seperti gunungan, lalu menurunkan hujan dan es sebagai rahmat atau azab-Nya kepada siapa yang dikehendaki.
Kilatan petir yang menyertai hujan es pun digambarkan sangat kuat hingga dapat menghilangkan penglihatan manusia.
Penjelasan ini mempertegas bahwa selain dipahami secara ilmiah, fenomena ini juga merupakan tanda kebesaran Allah yang mengingatkan manusia akan kekuasaan-Nya atas alam semesta.
Dengan demikian, fenomena bukan sekadar fenomena alam yang memerlukan pemahaman meteorologi, melainkan juga pelajaran spiritual bagi umat Islam untuk mengagungkan dan bersyukur atas kebesaran Allah.
Kesadaran ini penting agar manusia tetap menjaga sikap waspada dan berserah diri dalam menghadapi segala perubahan dan kekuatan alam yang ada di bumi.
Fenomena ini yang kerap terjadi di Indonesia menjadi pengingat sekaligus pembelajaran, bahwa alam adalah ciptaan yang luar biasa dengan mekanisme kompleks yang dikendalikan oleh Allah SWT, dan manusia sepatutnya mengambil hikmah serta mempersiapkan diri dalam menghadapi cuaca ekstrem yang dapat datang kapan saja.(Sei)

