Kabupaten Sukabumi

Keluarga Dari Siswi Yang Diduga Jadi Korban Bullying Hingga Tewas Mengadu ke Lembur Pakuan

×

Keluarga Dari Siswi Yang Diduga Jadi Korban Bullying Hingga Tewas Mengadu ke Lembur Pakuan

Sebarkan artikel ini
Relawan KDM Barisan GAWE Rancage Prabowo Nol Delapan Kota/ Kabupaten Sukabumi Sekaligus Ketua Pengurus Sukabumi Paralegal Advokasi Bela Rakyat Indonesia, Egi Sonia, dan Ketua SKP Indonesia, Kristiawan, mendatangi Pos Pengaduan Kampung Pakuan Subang, pada Senin (3/11). Foto/Istimewa

SUKABUMI – Duka mendalam akibat tragedi perundungan kembali mengguncang Sukabumi. Keluarga seorang siswi berinisial AK (14) yang diduga menjadi korban bullying hingga nekat mengakhiri hidupnya, akhirnya mengadu ke Lembur Pakuan, Subang, pada Senin (3/11/2025).

Kedatangan mereka didampingi oleh Tim Relawan KDM Barisan GAWE Rancage Prabowo Nol Delapan Kota/Kabupaten Sukabumi, serta Ketua SKP Indonesia, Kristiawan, dan Ketua Pengurus Paralegal Advokasi Bela Rakyat Indonesia, Egi Sonia.

Langkah tersebut diambil sebagai bentuk upaya mencari keadilan dan perlindungan hukum atas kematian tragis yang diduga dipicu oleh aksi perundungan di lingkungan sekolah.

“Kami datang untuk mendampingi keluarga korban agar kasus ini tidak berhenti di tengah jalan. Kami akan mengawal sampai tuntas, karena harus ada efek jera bagi pelaku,” tegas Egi Sonia, Ketua Paralegal Advokasi Bela Rakyat Indonesia.

Menurut Egi, keluarga korban memiliki hak untuk mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya, sekaligus dukungan moral dari masyarakat luas. Ia menilai, kasus ini harus menjadi peringatan keras bagi semua pihak agar tidak lagi menganggap remeh perilaku bullying di kalangan pelajar.

“Ini momentum kebangkitan kesadaran bersama. Jangan sampai ada lagi korban lain hanya karena diamnya kita terhadap tindakan perundungan,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua SKP Indonesia, Kristiawan, menegaskan bahwa tragedi seperti ini tidak boleh lagi terulang di mana pun. Ia bersama tim relawan dan keluarga korban mengadukan kasus ini ke Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi agar mendapat perhatian serius.

“Kami berharap laporan ini mendapat tindak lanjut yang nyata. Tidak boleh ada lagi anak yang kehilangan nyawa akibat bullying. Semoga keluarga korban mendapatkan keadilan seadil-adilnya,” ungkap Kristiawan.

Kasus meninggalnya AK kini tengah dalam penyelidikan pihak berwenang. Namun di tengah proses hukum tersebut, masyarakat mendesak agar tragedi ini menjadi cermin bagi dunia pendidikan dan keluarga untuk lebih peduli terhadap kesehatan mental anak.

“Setiap sekolah harus lebih peka terhadap tanda-tanda perundungan di lingkungan mereka. Orang tua pun perlu mengawasi bukan hanya nilai akademik, tapi juga kondisi emosional anak,” tutup Egi Sonia.

Tragedi ini membuka kembali luka lama dan menjadi peringatan keras bahwa dampak bullying bukan hanya menyakitkan secara psikis, tetapi juga dapat merenggut nyawa. Harapan besar kini tertuju pada langkah cepat pemerintah dan aparat penegak hukum untuk memastikan keadilan benar-benar berpihak pada korban dan keluarga.