JAKARTA – “Hadapi saja.” Itulah respon tegas Ribka Tjiptaning, politikus senior PDI Perjuangan, setelah dilaporkan ke Bareskrim Polri terkait komentarnya tentang almarhum Presiden Soeharto. Sikapnya yang tak gentar ini konsisten dengan rekam jejaknya sebagai figur politik yang tak segan menyuarakan pendapat kontroversial.
Ribka Tjiptaning Proletariyati bukanlah nama baru dalam peta politik Indonesia. Perempuan kelahiran Yogyakarta, 1 Juli 1959 ini memiliki perjalanan karier yang beragam, dari dokter, penulis, hingga politisi.
Dilansir dari Tirto, Ia menyelesaikan pendidikan kedokteran di Universitas Kristen Indonesia (UKI) pada 2002 setelah menempuh studi sejak 1978, dan sempat berpraktek sebagai dokter termasuk menjadi dokter perusahaan untuk Puan Maharani selama 17 tahun (1992-2009).
Baca Juga: Dari Jalan hingga Stadion Suryakencana, Ayep Zaki Ajukan Tiga Proyek Prioritas ke Kementerian PUPR
Di dunia politik, kariernya menanjak ketika terpilih sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Kota dan Kabupaten Sukabumi. Di DPRD, Ia pernah menjabat Ketua Komisi IX yang membidangi kesehatan dan ketenagakerjaan pada periode 2009-2014.
Meski gagal terpilih pada Pemilu 2024, Ribka tetap vokal menyuarakan pendapatnya. Kontroversi sepertinya telah menjadi bagian dari perjalanan politiknya.
Sebelum kasus komentar soal Soeharto ini, Ribka pernah dijatuhi sanksi oleh Badan Kehormatan DPR RI karena dugaan pelanggaran etika dalam pembahasan RUU Kesehatan. Ia juga menjadi sorotan ketika menolak vaksinasi Covid-19 di awal pandemi dengan alasan kehati-hatian.
Buku yang ditulisnya, “Aku Bangga Jadi Anak PKI”, semakin mengukuhkan image-nya sebagai politisi yang berani menyentuh tema-tema sensitif. Kini, di usia 66 tahun, ia kembali menjadi pusat perhatian setelah komentarnya tentang Soeharto mengundang laporan pidana.
Responsnya yang singkat namun penuh keyakinan menunjukkan karakter politisi yang telah terbiasa menghadapi tekanan. “Terimakasih atas informasinya. Hadapi saja,” ujar Ribka dikonfirmasi wartawan.

