SUKABUMI – Berdasarkan data Indeks Rawan Bencana Indonesia (IRBI), Kabupaten Sukabumi tercatat sebagai daerah dengan risiko bencana tertinggi atau zona merah. Fakta ini mendorong perlunya kolaborasi semua pihak dalam kesiapsiagaan, salah satunya melalui pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB).
Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala Bidang Linjamsos Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, Enok Komariah, dalam kegiatan sosialisasi dan simulasi KSB di Desa Nyalindung, Kamis (20/11/2025).
“Memang Sukabumi ini kalau dilihat dari IRBI adalah nomor satu untuk potensi bencana, jadi masuk zona merah,” ungkap Enok di hadapan peserta yang hadir.
Baca Juga: Evakuasi 30 Menit, Pohon Tumbang di Jalan Nasional Palabuhanratu Berhasil Diatasi
Ia menegaskan bahwa penanganan bencana tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Masyarakat harus terlibat aktif dan memahami langkah-langkah yang harus diambil saat bencana terjadi. Program KSB hadir sebagai solusi untuk membentuk masyarakat yang mampu menjadi garda terdepan dalam mitigasi dan penanganan darurat.
Kepala Bidang Linjamsos Dinas Sosial Kabupaten Sukabumi, Iwan Triyanto, membenarkan tingginya kerentanan wilayahnya. Faktor utamanya adalah kondisi topografi yang unik, yang dikenal dengan istilah gurilaps (gunung, rimba, laut, dan pantai).
Kondisi alam ini membuat Sukabumi sering dilanda bencana seperti tanah longsor, banjir, dan pergerakan tanah.
Baca Juga: Alhamdulillah! 1.827 PPPK Paruh Waktu Kota Sukabumi Bakal Dilantik Besok
“Penanganan bencana ini harus kolaborasi, dan kami sangat *welcome* kepada siapa dan lembaga manapun dalam kesiapsiagaan bencana ini,” harap Iwan, menekankan pentingnya sinergi antar elemen masyarakat.
Dukungan juga disampaikan oleh Kepala Desa Nyalindung, Asep Supriadi. Ia mengungkapkan bahwa di desanya terdapat empat titik rawan pergerakan tanah dan longsor.
Dengan dibentuknya KSB, ia berharap masyarakat yang telah dilatih dapat mandiri dan menularkan pengetahuannya hingga ke tingkat keluarga, sehingga kesiapsiagaan bencana dapat dimiliki oleh setiap rumah tangga.

