SUKABUMI – KH. Mahmud Mudrikah Hanafi — atau akrab disapa Ama Siqoy — merupakan salah satu ulama karismatik Sukabumi yang dikenal memiliki keluasan ilmu dan pengaruh besar dalam perkembangan pesantren serta Nahdlatul Ulama (NU) di Jawa Barat.
Lahir di Sukabumi Selatan, Desa Cibadak, Kecamatan Pabuaran, pada 8 Agustus 1945, beliau tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kental dengan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah ala Nahdliyin.
Ayahnya, KH Hasbulloh, dan ibunya, Hj. Syamsiah, adalah sosok yang sangat dihormati di wilayah Jampang. Dari garis keluarga, Ama Siqoy mewarisi tradisi keilmuan yang kuat. Kakek dari pihak ibu, KH Hanafi, dikenal sebagai pelopor berdirinya pesantren di Jampang, sementara ayahnya adalah salah satu kiai pertama yang membangun pondok pesantren di kawasan tersebut.
Baca Juga: Ulama Sukabumi Keturunan Wali Songo, Profil KH Zezen ZA dan Wasiatnya Untuk Umat
Ama Siqoy wafat pada Jumat malam, 7 April 2023, bertepatan dengan malam Nuzulul Quran, 17 Ramadan 1444 Hijriah. Ia wafat di usia 78 tahun, setelah salat tarawih.
Perjalanan Menuntut Ilmu: Dari Pesantren Sunda hingga Tanah Suci
Sejak kecil, Ama Siqoy ditempa dalam atmosfer ilmu. Perjalanan menuntut ilmunya ditempuh melalui berbagai pesantren ternama, di antaranya:
- Pesantren Cibeureum Darul Hikam kepada Mama Ajengan KH Mahmud Zamakhsari
- Pesantren Cikaret
- Berguru kepada ulama kharismatik KH Tubagus Ahmad Bakri As-Sampuri (Mama Sempur), keturunan Kesultanan Banten yang masyhur sebagai penulis banyak kitab
- Menimba ilmu kepada KH Ahmad Syuja’i (Mama Ciharashas), ulama besar Cianjur yang banyak melahirkan tokoh ulama di Jawa Barat
- Berguru kepada ulama Makkah, Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, ketika menunaikan haji pada tahun 1982
Meski pendidikan formalnya hanya sampai Sekolah Rakyat (SR), penguasaan keilmuan Ama Siqoy di berbagai disiplin ilmu agama melampaui banyak ulama—sebuah bukti kuat bahwa pendidikan pesantren tradisional adalah fondasi paling kokoh dalam membentuk dirinya.
Guru-gurunya yang dikenal luas:
- Mama Ajengan KH. Mahmud Zamakhsari
- Mama Ajengan KH. Tubagus Ahmad Bakri As-Sampuri (Mama Sempur)
- KH. Ahmad Syuja’i (Mama Ciharashas)
- Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki
Mendirikan Pesantren Siqoyaturrahmah
Pada tahun 1972, Ama Siqoy mendirikan Pondok Pesantren Siqoyaturrahmah di Jalan Selabintana KM 5, Selajambu, Kabupaten Sukabumi. Pesantren ini berdiri di atas tanah wakaf seluas 4.000 meter dari para tokoh dan kiai setempat.
Pesantren tersebut sudah melahirkan banyak alumni yang tersebar di berbagai wilayah. Keunikan Pesantren Siqoyaturrahmah terletak pada kajian ushul fiqh, terutama kitab Jam’ul Jawami’, yang diajarkan langsung oleh Ama Siqoy. Bahkan, tidak sedikit kiai dari luar daerah turut hadir dalam pengajian rutin bulanannya.
Baca Juga: Profil KH M Saeful Kamaludin, Pendiri Pondok Pesantren Al-Mubayyidliyah Cikakak Sukabumi
Selain Jam’ul Jawami’, Ama Siqoy juga mengampu berbagai kitab lain, seperti: Bugiyah, Alfiyah, Tafsir al-Munir, Jami’us Shogir, Tanwirul Qulub, Ihya Ulumuddin, Aurodul Waqiah, Minhajul Abidin, Iqna, dan Qolyubi
Keilmuan yang luas inilah yang membuat Ama Siqoy dihormati tak hanya oleh para santri, tetapi juga oleh sesama kiai.
Perjuangan di NU: Dari Ansor hingga Rais Syuriyah
Didikan Mama Ciharashas menjadikan Ama Siqoy teguh berjuang untuk Mahdlatul Ulama. Pada masa pergolakan G30S tahun 1965, Ama Siqoy—yang saat itu menjabat Ketua GP Ansor Sukabumi—bahkan pernah diutus langsung ke Lubang Buaya selama empat hari empat malam.
Sejak peristiwa itu, pengabdiannya kepada NU tidak pernah berhenti. Ia kini menjabat sebagai Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Sukabumi, dan menjadi tokoh penting dalam membangun struktur NU di daerah. Pada masa kepemimpinannya:
- Seluruh MWCNU di Kabupaten Sukabumi terbentuk
- Sebagian MWCNU sudah memiliki kantor sendiri
- Gedung kantor NU berhasil dibangun bersama para kiai seperti KH Abdul Basith dan KH Ansori Fudholi
Baginya, berjuang di NU adalah tugas tanpa pamrih.
“Orang NU itu dari dulu kalau berjuang tidak pernah menonjolkan diri, walaupun berjuang sekuat tenaga,” tegasnya.
Baca Juga: Kisah Adrian Zecha, Kelahiran Sukabumi Perintis Hotel Mewah Aman Resort yang Mendunia
Sebagai saksi sejarah perjalanan NU, Ama Siqoy juga hadir dalam berbagai muktamar, termasuk Muktamar NU ke-29 di Cipasung, Tasikmalaya. Ia mengaku menyaksikan bagaimana pemerintah Orde Baru berusaha menekan NU.
“Soeharto ingin menghancurkan NU, tapi karena NU itu karomah, justru semakin kuat,” ujarnya.
Tekanan dari rezim Orde Baru pun pernah ia rasakan. Ia beberapa kali dipanggil ke Kodim bersama para santrinya untuk diinterogasi akibat aktivitasnya di NU.
Deklarator PKB dan Kedekatan dengan Gus Dur
Selain di NU, Ama Siqoy turut menjadi salah satu deklarator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Sukabumi. Hingga akhir hidupnya ia masih aktif mengawal berbagai kegiatan partai.
Salah satu momen penting dalam hidupnya adalah ketika ia berkesempatan mendampingi KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berkunjung ke Jampang Tengah setelah sebuah acara di Pondok Pesantren Al-Masthuriyah. Gus Dur saat itu hendak menemui sahabat lamanya dari masa mondok di Pesantren Tambak Beras.
Ketokohan dan Pengaruhnya
Ama Siqoy dikenal sebagai ulama yang “alim, rendah hati, dan teguh pendirian”. Banyak kiai hadir langsung mengikuti pengajiannya sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu dan karakternya. Keluasan ilmu, konsistensi dalam perjuangan, serta kiprahnya dalam membangun NU menjadikannya salah satu tokoh sentral dalam perkembangan keagamaan di Sukabumi dan Jawa Barat.
Ketika usianya sudah sepuh, Ama Siqoy tetap aktif mengajar, membina santri, dan mengawal organisasi. Keteladanan dan jejak perjuangannya menjadi warisan berharga bagi generasi penerusnya.

