SUKABUMI – Insiden kecelakaan jetski yang menewaskan seorang wisatawan asing di Pantai Buffalo, Palabuhanratu, Senin (5/1/2026), menjadi perhatian serius DPRD Kabupaten Sukabumi. Peristiwa tersebut dinilai sebagai peringatan keras atas lemahnya pengawasan terhadap aktivitas wisata bahari berisiko tinggi.
Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Sukabumi, Hamzah Gurnita, mengatakan bahwa kejadian tersebut tidak bisa dianggap sekadar musibah. Menurutnya, kecelakaan ini mencerminkan masih longgarnya penerapan standar keselamatan di sejumlah wahana wisata air.
“Kejadian ini sangat memprihatinkan. Ketika standar keselamatan tidak diterapkan secara ketat, maka nyawa manusia dan citra pariwisata ikut dipertaruhkan,” ujar Hamzah.
Baca Juga: BMKG Prakirakan Hujan Ringan Guyur Kota Sukabumi Kamis Ini
Ia mendorong pemerintah daerah bersama instansi teknis segera melakukan audit menyeluruh terhadap legalitas dan operasional seluruh wahana wisata air, termasuk kelengkapan perizinan, sertifikasi operator, serta kesiapan penanganan kondisi darurat.
Hamzah menegaskan, wahana wisata yang tidak memenuhi ketentuan keselamatan harus segera dihentikan operasionalnya demi mencegah kejadian serupa terulang di masa depan.
“Usaha wisata berisiko tinggi tidak boleh berjalan tanpa pengawasan. Jika ditemukan pelanggaran, maka penutupan harus dilakukan,” tegasnya.
Baca Juga: Distribusi MBG di Jampangkulon Dievaluasi, Data Penerima Disorot
Selain aspek legalitas, DPRD juga menyoroti minimnya sistem mitigasi keselamatan di sejumlah kawasan wisata bahari. Menurut Hamzah, setiap pengelola wajib menyediakan peralatan penyelamatan yang memadai serta petugas yang terlatih dan bersertifikat.
Ia berharap tragedi di Pantai Bupalo menjadi momentum evaluasi total pengelolaan wisata bahari di Kabupaten Sukabumi agar sektor pariwisata dapat berkembang secara aman dan bertanggung jawab.
“Pariwisata harus tumbuh secara aman dan bertanggung jawab. Jangan sampai nyawa manusia menjadi harga yang harus dibayar,” pungkasnya.

