SUKABUMI – Ancaman gagal tanam akibat rusaknya tanggul irigasi mendorong Pemerintah Desa Cikarang bersama warga turun langsung ke lapangan. Tanpa menunggu bantuan, mereka bergotong royong memperbaiki saluran irigasi di Kampung Cipareang, Minggu (11/1/2026), demi menyelamatkan 25 hektar sawah yang menjadi sumber penghidupan 120 petani.
Kerusakan tanggul akibat hujan deras dan longsor sempat membuat aliran air terhambat. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran petani karena keterlambatan air irigasi dapat berdampak pada jadwal tanam dan potensi penurunan hasil panen.
Baca Juga: Dessert Murahan Ala Sukabumi, Cocok Dinikmati Saat Hujan dan Udara Dingin
Kepala Desa Cikarang, Asep Yudistira, mengatakan langkah cepat ini diambil agar aktivitas pertanian tidak terhenti terlalu lama. Menurutnya, irigasi merupakan urat nadi pertanian desa yang harus dijaga bersama.
“Kalau air tidak mengalir, petani yang paling terdampak. Karena itu kami memilih bergerak bersama warga agar sawah kembali terairi dan petani bisa tetap menanam,” ujarnya.
Baca Juga: SIM Keliling Polres Sukabumi Hadir di Bundaran Surade Senin 12 Januari 2026
Dukungan juga datang dari Camat Jampangkulon, Dading, yang menilai gerakan swadaya ini sebagai bentuk ketangguhan desa menghadapi kondisi cuaca ekstrem. Ia menyebut, kerja bakti tersebut bukan hanya soal memperbaiki tanggul, tetapi juga menjaga keberlangsungan ekonomi warga desa.
“Ini contoh nyata bagaimana desa mampu bertahan dan beradaptasi. Ketahanan pangan dimulai dari langkah kecil seperti memastikan irigasi berfungsi,” kata Dading.
Selain menjadi solusi darurat bagi petani, kerja bakti ini juga menjadi bagian dari semangat Hari Bakti Desa Nasional 2026, yang menekankan pentingnya partisipasi warga dalam pembangunan dan kemandirian desa.

