SUKABUMI – Dalam perjalanan hidup, setiap manusia pasti pernah berada pada titik terendah. Ada masa ketika langkah terasa berat, doa seakan tak terjawab, dan jalan hidup tampak seperti berujung jurang. Namun dalam Islam, kondisi tersebut bukanlah tanda kebencian Allah kepada hamba-Nya.
Sebagaimana sering disampaikan dalam kajian-kajian Ustadz Adi Hidayat, ketika Allah menempatkan seseorang pada situasi sulit, bahkan seolah dijatuhkan hingga ke tepi jurang kehidupan, sesungguhnya Allah sedang menyiapkan dua hal. Pertama, Allah akan menangkap hamba-Nya dengan kasih sayang-Nya. Ia akan diberi pertolongan, ketenangan, dan jalan keluar yang tidak disangka-sangka.
Kedua, jika pertolongan itu belum tampak, bukan berarti Allah meninggalkan. Justru di saat itulah Allah sedang mengajarkan hamba-Nya untuk “terbang”. Terbang dalam makna spiritual, yaitu belajar bersabar, memperkuat iman, memperdalam tawakal, dan menumbuhkan ketangguhan jiwa.
Baca Juga : Hadapi PSBS Biak, Berguinho Tegaskan Tekad Pertahankan Puncak Klasemen
Allah tidak pernah menjatuhkan hamba-Nya untuk membinasakan. Setiap ujian hadir sebagai proses pembentukan. Kesulitan melahirkan kedewasaan, kegagalan menumbuhkan kebijaksanaan, dan rasa lemah mengajarkan manusia untuk kembali bersandar sepenuhnya kepada Allah.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 6). Ayat ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap ujian, Allah selalu menyertakan jalan keluar.
Karena itu, ketika hidup terasa berat, jangan berprasangka buruk kepada Allah. Bisa jadi, Dia sedang memelukmu dengan rahmat-Nya atau sedang membentukmu agar mampu menjalani hidup dengan ketangguhan yang bersumber dari iman. Pada akhirnya, setiap proses itu akan mengantarkan hamba-Nya menuju kedewasaan dan kedekatan yang lebih dalam dengan-Nya.(SE)

