Oleh: Kang Warsa/Pegiat Literasi
Di masyarakat Nusantara, tradisi munggahan identik dengan menyiapkan keperluan untuk makan sahur di hari pertama puasa. Tahun 80–90-an menjadi penanda penting tradisi ini, di mana masyarakat muslim Nusantara benar-benar memerhatikan aspek asupan konsumsi daging atau protein hewani di hari pertama puasa. Satu keluarga biasanya memasak satu hingga dua kilogram daging ayam, kerbau, atau sapi.
Tak mengherankan, suasana perkotaan terutama di pasar penuh sesak oleh transaksi masyarakat yang membeli daging. Sementara menjelang sore, suasana perkampungan sudah disesaki oleh aroma masakan untuk sahur. Harus diakui, konsumsi terhadap daging bangsa ini masih tergolong sangat minim. Dari tahun 1990 hingga 2022 saja tercatat hanya sekitar 1,78 kilogram per kapita (per tahun). Hal ini memang dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang masih lemah.
Walakin, awal puasa dan Lebaran, mengonsumsi daging di masyarakat muslim Nusantara seolah menjadi satu kemestian. Tingkat konsumsi terhadap daging sebagai penyumbang protein hewani melonjak di bulan Ramadan. Sebetulnya, mengonsumsi daging adalah hal yang diwariskan oleh leluhur manusia. Sejak awal kelahirannya, di era berburu dan meramu, nenek moyang manusia telah mengonsumsi daging hingga kemudian di era revolusi pertanian melakukan domestikasi binatang.
Kebiasaan mengonsumsi daging yang dilakukan oleh nenek moyang manusia ini menjadi salah satu alasan munculnya revolusi kognitif, karena asupan protein membantu pertumbuhan ukuran dan kualitas otak manusia. Keberkahan manusia sebagai omnivora adalah pertumbuhan cepat dalam rantai evolusi otak dan daya nalar.
Jika tidak demikian, misalnya manusia hanya mengonsumsi satu jenis makanan saja, entah daging atau tumbuhan, kemungkinan besar manusia sampai sekarang, dalam istilah ilmu sosial disebut sapiens, masih berada di tingkat evolusi menengah karena kualitas otaknya belum berkembang optimal, mungkin setara dengan primata lain seperti gorila.
Kebiasaan mengonsumsi daging di awal Ramadan bukan berarti pemborosan. Paling tidak ada dua spektrum tentangnya. Pertama, mengonsumsi daging menjadi penanda sukacita masyarakat dalam menyambut bulan puasa. Dalam sejarah kehidupan manusia, tradisi mengonsumsi daging kerap dilakukan pada waktu pascapanen sebagai tanda suka cita menyambut keberhasilan musim panen.
Kedua, daging masih dipandang sebagai makanan mewah bagi masyarakat Nusantara sampai saat ini. Karena mengandung protein yang cukup tinggi, maka dalam menghadapi puasa agar tubuh tetap memiliki vitalitas, kebiasaan mengonsumsi daging menjelang puasa menjadi tradisi yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Tingkat konsumsi daging yang rendah, sebagaimana disebutkan di awal, menjadi alasan daging masih dipandang sebagai makanan istimewa. Selain itu, daging juga menjadi penanda hidangan perayaan, baik menjelang puasa, Lebaran, pernikahan, maupun upacara adat.
Di beberapa masyarakat adat, daging bahkan tidak hanya dikonsumsi, tetapi dijadikan persembahan (sesaji). Maka, menyajikan makan sahur dengan lauk daging menjadi pilihan utama masyarakat sebagai bentuk kesiapan menghadapi puasa, identik dengan penyerahan dan pengorbanan, termasuk membeli daging dengan harga yang tidak murah.
Harus diakui, ada sebagian pihak yang menyarankan agar umat tidak berlebihan dalam menyambut apa pun. Namun saya berpikir, sikap dan perilaku umat Islam di Nusantara saat menyambut bulan puasa dengan membeli dan menyiapkan makanan bukanlah sikap berlebihan. Selain hanya dilakukan sesekali pada bulan tertentu, masyarakat memiliki cara tersendiri dalam menyelesaikan persoalan hidupnya.
Sikap yang sering disebut gengsi, misalnya, bukan semata-mata perwujudan mengikuti arus, melainkan bentuk adaptasi sosial agar keberadaan diri tetap diakui dalam lingkungan. Manusia adalah makhluk adaptif yang dituntut terus menyesuaikan diri dengan lingkungannya demi menjaga keberlangsungan spesiesnya.
Di masyarakat muslim Nusantara, sejak Islam menyebar hingga sekarang, sehari menjelang puasa identik dengan kesiapan lahir dan batin dalam menghadapi ibadah. Wangi olahan dari masing-masing dapur adalah pertanda rasa syukur bahwa masyarakat akan kembali dipertemukan dengan bulan Ramadan. Itu juga menjadi manifestasi dari doa yang setahun lalu dipanjatkan: “Ya Allah, pertemukan kembali kami dengan bulan Ramadan berikutnya.” Maka dalam hal ini, bersyukur adalah pilihan yang paling tepat.

