SUKABUMI- Di bawah lampu jalan yang temaram, satu per satu pemuda berdatangan. Ada yang mengenakan jaket tipis, sebagian lagi sudah siap dengan kekuatan lari terbaiknya. Tawa dan sapaan akrab bersahut-sahutan, memecah sunyi malam di kawasan pesisir selatan Kabupaten Sukabumi tepatnya berlokasi di Jalan Raya Cangehgar, tepat di depan GOR Palabuhanratu, Minggu (23/2/2026).
Ajang Run Race Special Ramadan kembali digelar, menjadi agenda tahunan yang selalu dinanti generasi muda Palabuhanratu. Bukan sekadar lomba lari, kegiatan ini telah menjelma menjadi simbol kreativitas anak muda dalam mengisi waktu sahur dengan aktivitas sehat dan produktif.
Ketika aba-aba terdengar, para peserta melesat menyusuri Jalan Raya Cangehgar. Sorak sorai penonton menambah adrenalin. Beberapa warga tampak berdiri di pinggir jalan, mengabadikan momen dengan ponsel mereka. Suasananya meriah, namun tetap terasa akrab.
Bagi banyak peserta, Run Race Ramadan bukan soal siapa tercepat mencapai garis akhir. Lebih dari itu, ini tentang menjaga kebugaran tubuh saat berpuasa, sekaligus mempererat solidaritas. Di tengah tren begadang tanpa arah, mereka memilih berkeringat bersama.
Misbah (23), salah satu penonton, mengaku hampir setiap malam datang menyaksikan perlombaan tersebut. Menurutnya, suasana dini hari terasa berbeda sejak kegiatan ini rutin digelar.
“Seru banget. Teman-teman jadi punya kegiatan positif. Daripada nongkrong nggak jelas, lebih baik olahraga sambil nunggu sahur,” ujarnya.
Run Race ini juga menghadirkan ruang silaturahmi yang jarang ditemui di hari biasa. Pemuda dari berbagai sudut Palabuhanratu berkumpul tanpa sekat. Mereka datang bukan hanya untuk berkompetisi, tetapi juga untuk berbagi cerita, canda, dan semangat Ramadan.
Menjelang waktu imsak, suasana perlahan berubah. Nafas yang terengah usai berlari berganti dengan senyum puas. Sebagian peserta duduk di tepi jalan, meneguk air dan bersiap santap sahur bersama. Kebersamaan sederhana itu justru menjadi momen paling berkesan.
Di Palabuhanratu, Ramadan tak hanya tentang menahan lapar dan haus. Ia menjadi ruang bagi anak muda untuk tetap aktif, sehat, dan solid. Setiap dini hari, semangat itu berlari di bawah langit gelap pesisir selatan—membuktikan bahwa menunggu sahur pun bisa menjadi waktu paling produktif dan penuh makna.

