Berita UtamaJawa Barat

Survei SMRC: Elektabilitas Dedi Mulyadi Salip Prabowo, Pengamat Ungkap Faktor Pendorong

×

Survei SMRC: Elektabilitas Dedi Mulyadi Salip Prabowo, Pengamat Ungkap Faktor Pendorong

Sebarkan artikel ini
Potret Dedi Mulyadi takziah ke kediaman korban meninggal kecelakaan maut KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur. (Foto:YouTube @KangDediMulyadiChannel)

BANDUNG – Nama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, semakin diperhitungkan dalam bursa calon presiden setelah hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan peningkatan elektabilitas yang signifikan dalam sembilan bulan terakhir.

Dikutip dari Sukabumiku.id, Kamis (30/7/2026), survei tren elektabilitas calon presiden dengan simulasi semi terbuka periode November 2025 hingga Juli 2026 memperlihatkan perubahan posisi di papan atas.

Dalam survei tersebut, elektabilitas Presiden Prabowo Subianto turun dari 34,9 persen pada November 2025 menjadi 14,5 persen pada Juli 2026.

Baca Juga : Resep Es Wedang Uwuh Milk Tea, Minuman Rempah Dingin yang Creamy

Sebaliknya, elektabilitas Dedi Mulyadi mengalami kenaikan dari 19,7 persen menjadi 35 persen, sehingga menempatkannya di posisi teratas dalam simulasi tersebut.

Pengamat: Persepsi Publik Berpengaruh

Pengamat Politik dan Pemerintahan Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Arlan Siddha, menilai peningkatan elektabilitas Dedi Mulyadi tidak terlepas dari persepsi masyarakat terhadap kinerja serta kedekatan figur dengan publik.

Menurutnya, hasil survei elektoral sangat dipengaruhi oleh dinamika isu yang berkembang di tengah masyarakat.

“Kita tidak tahu indikator yang dilihat SMRC seperti apa, tetapi kalau berbicara elektoral hari ini, Pak Prabowo mungkin dengan beberapa kebijakannya mendapat sorotan dari masyarakat. Ketika survei itu keluar, tensi negatif kepada Pak Prabowo juga memengaruhi penurunan yang signifikan,” ujar Arlan, Rabu (29/7/2026).

Ia menyebut sejumlah isu nasional, seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes), menjadi bagian dari dinamika yang memengaruhi persepsi publik terhadap pemerintah.

“Kalau kita lihat hari ini memang ada isu MBG, isu Kopdes yang membuat Pak Prabowo agak sedikit mendapatkan kritikan dari masyarakat,” katanya.

Konsisten Bangun Komunikasi dengan Masyarakat

Di sisi lain, Arlan menilai Dedi Mulyadi memperoleh keuntungan elektoral berkat pendekatan komunikasi publik yang konsisten, terutama melalui media sosial.

Menurutnya, konten yang dibuat Dedi Mulyadi bukan hal baru karena telah dilakukan jauh sebelum menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat.

“Salah satu yang dilakukan Pak Dedi Mulyadi adalah membuat konten, tetapi konten ini sudah dia lakukan sejak sebelum menjadi gubernur. Masyarakat melihat Dedi Mulyadi konsisten mencoba memberikan solusi atau jalan keluar terhadap persoalan yang ada di masyarakat,” ujarnya.

Arlan menambahkan, konsistensi tersebut membuat masyarakat merasa memiliki kedekatan emosional dengan Dedi Mulyadi.

“Ini yang membuat masyarakat yakin dan percaya bahwa apa yang dilakukan Pak Dedi Mulyadi menunjukkan keseriusan bahwa dia dekat dan bisa menyelesaikan masalah di tengah masyarakat dengan pendekatan yang dia miliki,” pungkasnya.(SE)