Kesehatan

Penyakit Ginjal Bisa Datang Diam-diam, Waspadai 4 Gejala dan Kebiasaan yang Memperparah

×

Penyakit Ginjal Bisa Datang Diam-diam, Waspadai 4 Gejala dan Kebiasaan yang Memperparah

Sebarkan artikel ini
Foto ilustrasi seorang dokter sedang memeriksa hasil pemindaian organ ginjal pasien. (Foto: AI Chat GPT/Mulvi M Noor/Sukabumiku.id)

SUKABUMI – Kerusakan ginjal tidak selalu diawali dengan rasa sakit atau keluhan yang mudah dikenali.

Kemampuan ginjal beradaptasi membuat penurunan fungsi organ ini dapat berlangsung perlahan tanpa menimbulkan gejala berarti pada tahap awal, sehingga sebagian orang baru mengetahui adanya masalah setelah menjalani pemeriksaan kesehatan atau ketika kondisinya sudah berkembang lebih jauh.

Konsultan Nefrologi Wockhardt Hospitals Mumbai Central, India, Dr Nikhil Bhasin menjelaskan kemampuan adaptasi ginjal menjadi salah satu alasan gangguan pada organ tersebut dapat luput dari perhatian.

Baca Juga: Mahasiswa Geruduk Perumda TJM Sukabumi, Pertanyakan Proyek Water Meter Rp1,59 Miliar dan IPA Rp4,7 Miliar

“Kerusakan ginjal itu seringnya berkembang pelan-pelan dan tenang. Makanya banyak orang tidak sadar sampai kondisinya sudah parah. Organ ini sangat adaptif, jadi meski fungsinya sudah mulai turun, tubuh belum tentu menunjukkan gejala peringatan di fase awal,” kata Nikhil.

Ketika kerusakan mulai berlanjut, menurut Nikhil, sejumlah perubahan pada tubuh dapat muncul tetapi kerap dianggap sebagai keluhan biasa.

Setidaknya terdapat empat tanda yang disebut perlu diperhatikan, yakni pembengkakan ringan pada kaki, rasa lelah yang tidak biasa, sering buang air kecil pada malam hari, serta menurunnya nafsu makan.

Baca Juga: Cuaca Sukabumi Hari Ini 5 Agustus 2026: Hujan Berpotensi Turun, Pesisir Waspada Angin Kencang

Namun, kemunculan tanda-tanda tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan seseorang mengalami penyakit ginjal karena pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

Selain mengenali perubahan pada tubuh, kebiasaan sehari-hari juga menjadi perhatian dalam menjaga kesehatan ginjal.

Konsultan Nefrologi KIMS Hospitals Thane, India, Dr Sumiran Mahajan mengatakan pola makan yang buruk dan konsumsi garam berlebihan dapat memberikan beban tambahan terhadap ginjal.

Baca Juga: Dispar Sukabumi Perkuat Keselamatan Destinasi, SDM Pariwisata Dibekali Mitigasi hingga Teknik Evakuasi

“Ada hal-hal kecil yang dilakukan sehari-hari yang dampaknya sangat signifikan ke ginjal. Terlalu banyak makan junk food dan konsumsi garam berlebih itu memberi tekanan ekstra yang tidak perlu pada ginjal,” ujar Sumiran.

Penggunaan obat tanpa pengawasan medis, terutama obat pereda nyeri atau painkiller, juga menjadi kebiasaan yang disorot.

“Penggunaan obat pereda nyeri tanpa saran medis bisa berdampak jangka panjang pada kondisi ginjal. Ini makin riskan buat orang yang punya riwayat diabetes dan hipertensi, karena dua kondisi itu merusak pembuluh darah penopang ginjal,” katanya.

Baca Juga: SIM Keliling Polres Sukabumi Hadir di Pos Lantas Cidahu, Rabu 5 Agustus 2026

Nikhil juga menyebut diabetes yang tidak terkontrol, hipertensi, penggunaan painkiller berlebihan dan faktor keturunan sebagai sejumlah faktor yang berkaitan dengan kerusakan ginjal.

Sementara kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi garam, kurang minum air putih dan kurang berolahraga disebut dapat memperburuk kondisi.

Karena gangguan ginjal pada tahap awal dapat berlangsung tanpa gejala yang kentara, Sumiran menekankan pentingnya langkah pencegahan dan kesadaran terhadap risiko sejak dini.

“Perawatan ginjal itu pada dasarnya langkah pencegahan. Masyarakat harus paham kalau penyakit ginjal di stadium awal memang sering tidak bergejala, supaya makin siaga mengambil tindakan pencegahan,” ujarnya.