SUKABUMI – Pemerintah memastikan proses relokasi warga terdampak bencana di wilayah Kampung Nyalindung, Desa Pasirsuren, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, kini mulai memasuki tahap krusial. Saat ini, penganggaran untuk pembebasan lahan tengah disiapkan, mengingat lokasi relokasi yang direncanakan merupakan tanah milik masyarakat, Rabu (7/1/2026).
Camat Palabuhanratu, Deni Yudono, mengatakan rencana relokasi warga sebenarnya telah dibahas sejak beberapa tahun lalu. Namun, realisasi di lapangan menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait ketersediaan lahan yang sesuai dan berstatus non-pemerintah.
Menurut Deni, pemerintah desa, kecamatan, hingga Pemerintah Kabupaten Sukabumi telah mengusulkan sejumlah bidang tanah milik warga untuk dijadikan lokasi relokasi. Usulan tersebut juga telah melalui pemeriksaan dari instansi terkait, termasuk badan vulkanologi, dan dinyatakan memungkinkan untuk ditempati.
Baca Juga: Pisah Sambut Kapolres Kota Sukabumi, Wabup Tekankan Pentingnya Sinergitas Forkopimda
“Data warga terdampak sudah kami usulkan ke BNPB. Kendala utamanya saat ini berada pada penentuan dan pembebasan lahan relokasi,” ungkap Deni.
Ia mengungkapkan, jumlah warga terdampak mengalami perubahan signifikan. Jika pada pendataan awal tercatat sekitar 100 kepala keluarga, kini jumlah tersebut bertambah menjadi lebih dari 300 kepala keluarga yang tersebar di beberapa wilayah, di antaranya Cikore dan Cirawa.
Adapun lokasi relokasi yang direncanakan berada di area sekitar kantor desa. Lokasi tersebut dinilai strategis, mudah dijangkau, serta dapat mempermudah pelayanan pemerintahan bagi warga yang nantinya direlokasi.
Baca Juga: Jalan Rusak Picu Kecelakaan, Posko Pengaduan Dibuka di Palabuhanratu Sukabumi
“Untuk sementara itu yang bisa kami sampaikan. Yang pasti, proses ini terus kami dorong agar segera terealisasi,” katanya.
Sebelumnya, salah seorang warga setempat, Muhammad Dahlan (23), mengungkapkan pergerakan tanah masih kerap terjadi setiap musim hujan, terutama setelah hujan reda. Kondisi tersebut membuat warga hidup dalam kekhawatiran, namun tidak memiliki banyak pilihan selain bertahan di kawasan rawan bencana.
“Dari awal kejadian lima tahun lalu sampai sekarang belum ada tindak lanjut. Kami hanya dijanjikan terus selama ini,” ujar Dahlan.
Ia menjelaskan, sebelumnya sempat ada rencana relokasi ke rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di kawasan Cikeong, Palabuhanratu, namun rencana tersebut tidak pernah terealisasi. Upaya relokasi ke lahan perkebunan PTPN di dekat kantor desa juga sempat dilakukan, bahkan hingga tahap pengukuran, namun akhirnya batal.
Baca Juga: Wali Kota Sukabumi Siap Datangkan Sapi Impor Murah, Tanggapi Mogok Jualan Pedagang
Selain ancaman pergerakan tanah, warga juga dihadapkan pada kondisi jalan yang amblas dan tidak stabil. Jalan tersebut kini hanya dapat dilalui satu arah karena badan jalan yang berlubang dan membahayakan pengguna jalan.
“Sudah banyak korban kecelakaan di situ. Makanya warga bergantian membantu mengatur lalu lintas supaya tidak terjadi korban lagi,” katanya.

