Kota Sukabumi

Ayep Zaki Soroti Pendidikan dan Kemiskinan Sukabumi, 170 Ribu Warga Masuk Desil 1–5

×

Ayep Zaki Soroti Pendidikan dan Kemiskinan Sukabumi, 170 Ribu Warga Masuk Desil 1–5

Sebarkan artikel ini
Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki saat memberikan sambutan acara Ajang Kreasi Seni, Apresiasi Retorika dan Argumentasi tingkat SMP se-Kota Sukabumi di SMA Negeri 1 Kota Sukabumi, Sabtu (26/9/2026). Foto:Dok/Dokpimkotasukabumi

SUKABUMI– Persoalan pendidikan dan kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah bagi Kota Sukabumi. Wali Kota Sukabumi H. Ayep Zaki menegaskan pentingnya memperluas kesempatan pendidikan bagi anak-anak sebagai salah satu upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memperbaiki kesejahteraan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Ayep saat menghadiri Ajang Kreasi Seni, Apresiasi Retorika dan Argumentasi tingkat SMP se-Kota Sukabumi di SMA Negeri 1 Kota Sukabumi, Sabtu (26/9/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Ayep tidak hanya mengapresiasi kreativitas pelajar, tetapi juga menyoroti kondisi sosial yang menurutnya perlu mendapat perhatian bersama. Ia menyebut sekitar 170 ribu warga Kota Sukabumi masuk kelompok desil 1–5 berdasarkan data yang disampaikannya.

Kelompok desil 1–5 merupakan kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan relatif lebih rendah dalam pengelompokan sosial ekonomi. Data tersebut, menurut Ayep, perlu menjadi bahan evaluasi untuk menentukan langkah perbaikan, termasuk melalui penguatan sektor pendidikan.

“Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Jangan mencari siapa yang salah, tetapi apa yang harus kita perbaiki,” tegasnya.

Ayep menilai pendidikan memiliki peran penting dalam membuka kesempatan seseorang untuk memperoleh pekerjaan, mengembangkan kemampuan, dan meningkatkan taraf hidup. Karena itu, ia mengingatkan agar tidak ada anak yang kehilangan kesempatan bersekolah akibat berbagai keterbatasan.

Ia secara khusus menekankan pentingnya memastikan anak-anak dapat melanjutkan pendidikan setelah jenjang SMP dan memperoleh kesempatan belajar sesuai kemampuannya.

“Kalau tidak berpendidikan, kita khawatir yang lahir adalah kemiskinan, kemudian kebodohan. Karena itu, pendidikan harus menjadi perhatian kita bersama,” ungkapnya.

Pendidikan Jadi Perhatian Bersama

Ayep juga memaparkan data tingkat pendidikan penduduk Kota Sukabumi yang menunjukkan masih perlunya perhatian terhadap peningkatan kualitas pendidikan masyarakat.

Berdasarkan data yang disampaikannya, jumlah penduduk dengan pendidikan terakhir SD tercatat 36.764 orang, SMP 54.883 orang, dan SMA 98.408 orang. Sementara itu, penduduk berpendidikan diploma tercatat 7.819 orang, sarjana (S1) 21.986 orang, magister (S2) 1.808 orang, dan doktor (S3) sebanyak 80 orang.

Menurut Ayep, data tersebut perlu menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun langkah peningkatan kualitas sumber daya manusia. Ia mengajak pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat mengambil peran agar kesempatan pendidikan dapat dijangkau lebih luas.

Meski demikian, data tingkat pendidikan tersebut perlu dibaca berdasarkan kategori dan definisi yang digunakan, termasuk apakah angka yang disampaikan merujuk pada pendidikan terakhir penduduk atau kategori lainnya.

Pelajar Didorong Berani Berpendapat

Selain menyinggung persoalan sosial, Ayep mengapresiasi penyelenggaraan Ajang Kreasi Seni, Apresiasi Retorika dan Argumentasi yang memberikan ruang bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan literasi, kreativitas, serta keberanian menyampaikan gagasan.

Ia mengingatkan bahwa kemampuan membaca, memahami informasi, berpikir kritis, dan menyusun argumentasi perlu dibangun sejak usia sekolah.

“Literasi merupakan salah satu pondasi penting untuk mempersiapkan generasi masa depan. Anak-anak harus dibiasakan membaca, memahami informasi, berpikir kritis, menyampaikan pendapat, dan berani berargumentasi,” ujarnya.

Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi siswa tingkat SMP untuk mengembangkan potensi sekaligus melatih kepercayaan diri saat tampil di hadapan publik.

Kepala SMA Negeri 1 Kota Sukabumi dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan itu merupakan bagian dari upaya memberikan ruang kepada generasi muda untuk mengembangkan kemampuan dan bakat. Literasi, retorika, serta argumentasi dinilai sebagai keterampilan penting dalam membentuk pelajar yang mampu menyampaikan pemikiran secara terstruktur.

Kepada para peserta, Ayep berpesan agar tidak takut bertanya, mengemukakan pendapat, dan memiliki cita-cita tinggi. Ia berharap kemampuan yang diperoleh melalui kegiatan tersebut dapat menjadi bekal bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan masa depan.

“Jangan takut untuk bertanya. Jangan takut menyampaikan pendapat. Dan jangan takut memiliki cita-cita yang tinggi,” pesannya.

Ayep berharap kegiatan serupa terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya membangun generasi yang berpendidikan, kritis, kreatif, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.

Menurutnya, perbaikan pendidikan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat perlu berjalan bersama agar anak-anak Kota Sukabumi memiliki kesempatan lebih baik untuk mengembangkan potensi dan meraih masa depan.

“Mohon kita bersama-sama menjadikan Kota Sukabumi menjadi kota yang bercahaya,” pungkasnya. (Ky)