Sukabumi

Bencana Nyalindung dan Amanah Kepemimpinan: Pemimpin sebagai Imam dalam Perspektif Islam

×

Bencana Nyalindung dan Amanah Kepemimpinan: Pemimpin sebagai Imam dalam Perspektif Islam

Sebarkan artikel ini

SUKABUMI – Bencana pergerakan tanah yang terus menghantui Kampung Nyalindung, Desa Pasir Suren, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, selama lima tahun terakhir menyisakan kegelisahan mendalam bagi warganya. Hingga kini, belum ada kepastian relokasi maupun penanganan menyeluruh, sementara ancaman bencana masih terus terjadi, terutama saat musim hujan.

Dalam perspektif Islam, kondisi ini tidak hanya berbicara tentang mitigasi bencana dan infrastruktur, tetapi juga menyentuh hakikat kepemimpinan itu sendiri.

Pemimpin dalam Islam Bukan Sekadar “Rais”

Menurut Ustaz Adi Hidayat, dalam Islam istilah pemimpin sejatinya bukan sekadar rais (presiden, gubernur, bupati, camat, hingga RT/RW). Al-Qur’an dan hadis menggunakan istilah yang lebih mendalam, yaitu imam.

Baca Juga : Ramuan Obat Kuat Stamina Pria dengan Akar dan Buah Pinang

Imam bukan hanya pemimpin administratif, melainkan pemimpin yang mampu mendekatkan dan mengenalkan orang-orang yang dipimpinnya kepada Allah SWT. Kepemimpinan dalam Islam bukan semata soal pembangunan fisik, melainkan juga tanggung jawab spiritual dan moral.

Pertanyaan di Hari Hisab

Ustaz Adi Hidayat menegaskan bahwa di yaumul hisab, seorang pemimpin Muslim tidak pertama kali ditanya tentang berapa banyak infrastruktur yang dibangun atau seberapa besar kemajuan ekonomi yang dicapai. Semua itu memang bernilai amal saleh, namun pertanyaan pertama adalah: berapa banyak rakyat yang berhasil didekatkan kepada Allah SWT melalui kepemimpinannya.

Dalam konteks Kampung Nyalindung, janji relokasi yang tak kunjung terealisasi dan keselamatan warga yang terancam menunjukkan bahwa amanah kepemimpinan belum sepenuhnya tertunaikan. Islam memandang keselamatan jiwa sebagai prioritas utama, bagian dari tujuan besar syariat (maqashid syariah).

Imam yang Adil dan Bertanggung Jawab

Rasulullah SAW menyebut salah satu golongan yang mendapat naungan Allah di hari kiamat adalah imamun ‘adil pemimpin yang adil. Menurut Ustaz Adi Hidayat, keadilan dalam kepemimpinan lahir dari kedekatan seorang pemimpin kepada Allah SWT, yang tercermin dari ibadahnya, khususnya salat.

Salat berjamaah mengajarkan harmoni antara imam dan makmum: gerakan selaras, suara seirama, dan tujuan yang sama. Nilai ini, jika dibawa ke dalam kepemimpinan sosial, akan melahirkan kebijakan yang adil, masyarakat yang kompak, serta kesejahteraan yang merata.

Bencana sebagai Ujian Kepemimpinan

Kasus Kampung Nyalindung menjadi ujian nyata bagi para pemangku kebijakan. Ketika warga harus bergotong royong mengatur lalu lintas karena jalan rusak dan rawan kecelakaan, itu menandakan adanya kekosongan peran yang seharusnya diisi oleh negara.

Dalam Islam, membiarkan rakyat hidup dalam ketakutan dan ketidakpastian bertentangan dengan prinsip kepemimpinan sebagai imam. Pemimpin dituntut hadir, berempati, dan bertindak nyata bukan sekadar memberi janji.

Bencana tidak hanya menguji ketangguhan alam, tetapi juga menguji kualitas kepemimpinan. Islam mengajarkan bahwa pemimpin adalah imam: pelindung, pengayom, dan penunjuk arah, baik secara duniawi maupun ukhrawi. Tanpa langkah konkret untuk menjamin keselamatan dan masa depan warga, amanah kepemimpinan kehilangan maknanya.

Harapan warga Kampung Nyalindung bukan sekadar tuntutan sosial, melainkan seruan moral dan spiritual agar para pemimpin kembali pada hakikat kepemimpinan dalam Islam: adil, bertanggung jawab, dan mendekatkan rakyat kepada keselamatan di dunia dan di akhirat.(SE)