Sukabumi

Bulan Rajab dalam Islam: Mengapa Puasa Jadi Amalan Paling Utama?

×

Bulan Rajab dalam Islam: Mengapa Puasa Jadi Amalan Paling Utama?

Sebarkan artikel ini
Rajab Bulan Istimewa: Waktu Terbaik Puasa Sunah dan Qada Ramadan
Rajab Bulan Istimewa: Waktu Terbaik Puasa Sunah dan Qada Ramadan. Foto Ilustrasi : Istimewa

SUKABUMI  – Bulan Rajab merupakan salah satu bulan istimewa dalam kalender Islam. Secara bahasa, Rajab berasal dari kata tarjīb yang bermakna ta’zhīm, yakni memuliakan, mengagungkan, dan meninggikan. Karena itu, Rajab disebut sebagai bulan yang agung dan mulia, yang dipilih langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam Islam, Rajab termasuk satu dari empat bulan haram (asyhurul hurum) yang dimuliakan Allah. Tiga bulan haram datang berturut-turut, yaitu Zulqa’dah, Zulhijah, dan Muharram, sementara Rajab berada terpisah di antara Jumadil Akhir dan Syakban. Keistimewaan ini menjadikan Rajab sebagai momentum penting untuk meningkatkan kualitas ibadah.

Rasulullah SAW bahkan memiliki doa khusus saat memasuki bulan Rajab:

Baca Juga : Ramuan Tradisional untuk Meningkatkan Stamina Pria Hanya Dengan Bawang Merah dan Sereh

“Allahumma barik lana fi Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadan.”
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Syakban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadan.”

Doa ini menunjukkan bahwa Rajab merupakan pintu awal menuju Ramadan, bulan puncak ibadah umat Islam.

Lalu, amal apa yang paling utama di bulan Rajab? Dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT berfirman:

“Ash-shaumu li wa ana ajzi bihi.”
“Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Hadis ini menjadi landasan bahwa puasa adalah amal yang paling mulia, termasuk ketika dilakukan di bulan Rajab. Karena itu, memperbanyak puasa sunah di bulan ini sangat dianjurkan, terutama ketika bertepatan dengan hari-hari istimewa seperti puasa Kamis.

Menariknya, bagi umat Islam yang masih memiliki utang puasa Ramadan, bulan Rajab menjadi waktu yang sangat ideal untuk mengqadanya. Niat qada puasa di bulan Rajab bisa mendatangkan banyak keutamaan sekaligus. Seseorang yang berpuasa qada pada hari Kamis di bulan Rajab, misalnya, berpotensi mendapatkan tiga pahala: pahala qada puasa Ramadan, pahala puasa Kamis, dan pahala puasa sunah Rajab.

Kesempatan ini sering terlewatkan karena berbagai alasan. Ada yang menunda qada di bulan Syawal karena suasana Lebaran, menunda di bulan-bulan berikutnya karena kesibukan, hingga akhirnya lupa. Padahal, Allah telah memberikan kelonggaran bagi orang yang sakit atau bepergian untuk mengganti puasa di hari lain, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.

Bulan Rajab pun kerap diingatkan sebagai momentum refleksi, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Bukan hanya ibu-ibu yang memiliki utang puasa karena hamil atau menyusui, para bapak pun tak jarang masih menyimpan utang puasa yang belum tertunaikan.

Karena itu, Rajab hadir sebagai pengingat dan kesempatan emas. Bulan yang mulia ini seakan mengajak umat Islam untuk membersihkan tanggungan ibadah, memperbanyak puasa, dan mempersiapkan diri secara spiritual agar dapat menyambut Ramadan dengan hati yang lapang dan amal yang lebih sempurna.(SE)