SUKABUMI — Keterbatasan fasilitas tidak menjadi penghalang bagi siswa SMAN 1 Palabuhanratu untuk meraih prestasi. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan mereka memborong sejumlah gelar juara dalam ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) serta Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat Kabupaten Sukabumi tahun 2026.
Dalam ajang FLS3N yang digelar pada 29 April 2026, SMAN 1 Palabuhanratu sukses meraih Juara 1 Cipta Puisi dan Juara 1 Baca Puisi. Selain itu, mereka juga meraih Juara 2 Jurnalistik, serta Juara 3 untuk cabang Fotografi dan Cerpen.
Sementara pada O2SN yang berlangsung sehari sebelumnya, sekolah ini mencatatkan prestasi gemilang dengan total 12 medali. Rinciannya terdiri dari dua medali emas cabang renang, dua emas panjat tebing, empat perak renang, serta masing-masing dua perunggu dari cabang renang dan panjat tebing.
Sejumlah siswa pun dipastikan melaju ke tingkat Provinsi Jawa Barat. Yosi Meilani akan mewakili cabang cipta puisi, Siti Miranti pada baca puisi, dan Prince Jhon pada cabang panjat tebing kategori lead dan speed putra.
Baca Juga : SMAN 3 Sukabumi Kembali Juara Debat, Siap Wakili Kota ke Tingkat Provinsi
Kepala SMAN 1 Palabuhanratu, Raya Erwana, mengungkapkan rasa bangganya atas capaian tersebut. Ia menilai keberhasilan ini tidak lepas dari proses pembinaan yang serius dalam menggali potensi siswa.
Ia menyampaikan bahwa setelah bakat siswa diasah secara maksimal, muncul potensi-potensi terpendam yang diyakini akan menjadi bekal untuk meraih prestasi lebih besar di masa mendatang.
Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, Elis Rohmiati, menambahkan bahwa capaian tahun ini menjadi tonggak penting bagi sekolah.
Baca Juga : Tujuh Sapi Kurban dari Bakrie Amanah Disalurkan Pemkab Sukabumi untuk Warga
Menurutnya, para siswa mulai mencatatkan sejarah sebagai wakil Kabupaten Sukabumi di berbagai ajang tingkat provinsi, baik sebagai “artis” di bidang seni maupun atlet di bidang olahraga.
Di balik keberhasilan tersebut, terdapat perjuangan yang tidak ringan. Peserta FLS3N harus menjalani pembinaan bersama pembina sastra Jawa Barat, Yusuf Gigan, sementara atlet panjat tebing harus berlatih rutin di Bandung karena belum tersedianya fasilitas di sekolah.
Salah satu atlet, Prince Jhon, mengakui keterbatasan sarana sempat menjadi tantangan. Namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk berlatih.
Ia menuturkan bahwa meski belum memiliki fasilitas panjat tebing, mereka tetap berlatih di Bandung secara rutin hingga akhirnya mampu membuktikan kemampuan dan meraih prestasi.

