SUKABUMI – Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Dessy Susilawati, menyampaikan apresiasi atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada almarhum Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, tokoh asal Jawa Barat yang dikenal sebagai ahli hukum internasional dan konseptor konsep Wawasan Nusantara dalam hukum laut Indonesia.
Gelar tersebut diserahkan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto pada Upacara Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional di Istana Negara, Senin (10/11), bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan.
Dessy menilai, penganugerahan ini bukan hanya bentuk penghormatan negara terhadap jasa besar Mochtar, tetapi juga momentum untuk memperkenalkan kembali keteladanannya kepada masyarakat, khususnya generasi muda di Jawa Barat.
Baca Juga: Bupati Asep Japar Minta Jajaran Percepat Respons dan Berikan Pelayanan Sepenuh Hati
“Beliau adalah tokoh penting asal Jawa Barat yang karyanya berpengaruh besar dalam mempertahankan kedaulatan wilayah Indonesia. Kontribusinya bukan hanya akademis, tetapi berperan langsung terhadap posisi Indonesia di mata dunia. Kita patut berbangga,” ujar Dessy.
Legislator dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini mengajak generasi muda untuk memahami bahwa perjuangan membangun bangsa tidak selalu dilakukan dengan angkat senjata, tetapi juga melalui gagasan, keahlian, dan konsistensi dalam bekerja.
“Semangat pahlawan itu soal dedikasi. Anak-anak muda hari ini harus percaya bahwa ilmu pengetahuan, integritas, dan kerja keras punya dampak besar bagi negara. Prof. Mochtar adalah bukti nyata,” tambahnya.
Baca Juga: Pelajar Tewas dalam Kecelakaan di Jalan Raya Siliwangi Tegalbuleud, Sukabumi
Dessy yang kini bertugas di Komisi V DPRD Jawa Barat—yang membidangi kesejahteraan rakyat, pendidikan, sosial, pemuda, kesehatan, hingga pemberdayaan perempuan—juga berharap nilai-nilai kepahlawanan dapat kembali dihidupkan dalam sistem pendidikan dan kegiatan kepemudaan di Jawa Barat.
“Kami di Komisi V tentu sangat mendorong agar sekolah, kampus, dan komunitas pemuda turut menghidupkan kembali diskusi tentang tokoh-tokoh bangsa. Anak-anak kita perlu sosok teladan yang nyata, dekat, dan relevan,” tutupnya.

