SUKABUMI – Surade, wilayah selatan Kabupaten Sukabumi, tak bisa dilepaskan dari sosok Eyang Santri Dalem tokoh ulama sekaligus perintis yang jejak sejarahnya masih hidup hingga hari ini. Di kalangan masyarakat Pajampangan, ia juga dikenal dengan sebutan Eyang Cigangsa, figur sentral dalam kisah awal terbentuknya Surade.
Berbagai catatan tutur dan silsilah keluarga menyebutkan bahwa Eyang Santri Dalem merupakan pendiri pondok pesantren pertama di wilayah Surade. Salah satu sumber sejarah tersebut disampaikan oleh Kamaludin (73), tokoh masyarakat Pajampangan yang merupakan keturunan langsung Eyang Santri Dalem.
Menurut Kamaludin, Eyang Santri Dalem memiliki nama asli Raden Suranangga, putra dari Raden Arya Adipati Jagabaya, Bupati Galuh Imbanagara (kini wilayah Ciamis) yang memerintah pada pertengahan abad ke-18, tepatnya antara tahun 1732 hingga 1751. Masa itu merupakan periode penuh gejolak, ketika Kerajaan Mataram berada di bawah tekanan kolonial Belanda.
Baca Juga: Demo Buruh di Cibadak Sukabumi: Wartawan Dilarang Meliput, Ratusan Pekerja Terancam PHK
Situasi politik yang tidak stabil mendorong Raden Arya Adipati Jagabaya menyelamatkan anak-anaknya dengan menyebar ke berbagai wilayah. Langkah ini bukan semata upaya perlindungan, tetapi juga bagian dari strategi menjaga kesinambungan kekuasaan dan pengaruh keluarga di masa depan.
Sekitar awal tahun 1750, Raden Suranangga bersama istrinya, Ming Maung Mangale-ngale Jukung, bergerak ke arah barat dan tiba di kawasan Jampangkulon. Di wilayah Pasirkanyere kini sekitar Terminal Surade atau Kampung Kateu, ia membuka lahan dan membangun perkampungan sederhana sebagai tempat bermukim dan beristirahat. Dari titik inilah cikal bakal pemukiman Surade mulai tumbuh.
Perjalanan spiritual Raden Suranangga semakin menguat ketika pada tahun 1775 ia menimba ilmu agama di Sindangkasih, Ciamis, berguru kepada Ajengan Idris. Sepulang dari sana, ia mendirikan sebuah pondok pesantren bernama Batu Suhunan atau Batu Masigit. Nama pesantren tersebut kini diabadikan sebagai nama kampung di wilayah Kelurahan Surade, menjadi penanda kuat warisan keilmuannya.
Tak hanya dikenal sebagai ulama, Eyang Santri Dalem juga pernah mengemban amanah pemerintahan. Pada tahun 1811, ia tercatat menjabat sebagai bupati di wilayah Ladeh, sekitar Wado, Kabupaten Sumedang.
Baca Juga: Malam Nisfu Sya’ban: Malam Penuh Ampunan, Rahmat, dan Pengangkatan Amal
Eyang Santri Dalem wafat pada tahun 1817. Ia dimakamkan di Kampung Cigangsa (Cihaur Kuning), Desa Kadaleman, Kecamatan Surade. Hingga kini, makam tersebut menjadi salah satu tujuan ziarah masyarakat dari berbagai daerah.
Penghormatan terhadap jasa dan perannya juga diwujudkan dengan penamaan Jalan Eyang Santri Dalem, sebuah ruas jalan berstatus jalan kabupaten yang menghubungkan Kelurahan Surade dengan Desa Kadaleman serta Desa Caringinnunggal di Kecamatan Waluran. Penetapan nama jalan ini diresmikan langsung oleh Bupati Sukabumi saat itu, Sukmawijaya.
Kisah Eyang Santri Dalem turut tercatat dalam Piagam Sunan Nalagangsa (Batok Putih). Hingga kini, pondok pesantren yang ia rintis tetap berlanjut dan diasuh oleh para keturunannya, menjadi bukti bahwa warisan dakwah dan perjuangannya masih hidup di tengah masyarakat Pajampangan.

