SUKABUMI – Fenomena astronomi langka namun selalu dinantikan, Gerhana Bulan Total, akan terjadi pada Selasa, 3 Maret 2026, bertepatan dengan malam ke-14 Ramadan 1447 Hijriah. Menariknya, peristiwa ini dapat diamati masyarakat Indonesia saat waktu berbuka puasa, tanpa perlu bergadang.
Gerhana Bulan total terjadi ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan, sehingga cahaya Matahari ke Bulan terhalang sepenuhnya. Meski demikian, Bulan tidak menghilang, melainkan tampak berwarna merah tembaga akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi, fenomena yang dikenal sebagai Blood Moon.
Terjadi Saat Bulan Purnama
Secara astronomis, gerhana Bulan selalu terjadi pada fase Bulan purnama, yang dalam kalender Hijriah jatuh pada tanggal 14 atau 15. Untuk Maret 2026, fase purnama terjadi pada 3 Maret 2026 pukul 18.37 WIB. Karena pergantian tanggal Hijriah berlangsung saat Magrib, maka gerhana ini bertepatan dengan malam 14 Ramadan 1447 H.
Waktu Puncak Gerhana di Indonesia
Berdasarkan data astronomi, puncak gerhana Bulan total di wilayah Indonesia terjadi sekitar:
Baca Juga: Catat! Tempat Hiburan Malam di Kota Sukabumi ‘Haram’ Beroperasi Selama Ramadan
Puncak Gerhana Total:
18.34 WIB | 19.34 WITA | 20.34 WIT
Seluruh tahapan gerhana, mulai dari fase penumbra hingga berakhir, dapat diamati di sebagian besar wilayah Indonesia. Beberapa fase awal ditandai dengan Bulan yang belum terbit di wilayah tertentu, namun puncak gerhana tetap dapat disaksikan dengan jelas dari langit timur.
Aman Diamati Tanpa Alat Khusus
Tidak seperti gerhana Matahari, gerhana Bulan total aman diamati dengan mata telanjang. Masyarakat tidak perlu menggunakan kacamata khusus. Bahkan, penggunaan teleskop atau teropong justru dianjurkan bagi yang memilikinya untuk melihat detail permukaan Bulan saat fase total.
Baca Juga: Kisah Panjang Masjid Agung Palabuhanratu, dari Wakaf Warga hingga Ikon Kota
Fenomena ini juga menjadi momentum edukatif bagi masyarakat untuk memahami astronomi sekaligus menumbuhkan rasa takjub terhadap keteraturan alam semesta.
Gerhana Bukan Fenomena Langka
Meski terasa sering terjadi, gerhana bukanlah fenomena langka. Setiap tahun, secara global, terjadi 4 hingga 7 kali kombinasi gerhana Matahari dan Bulan. Persepsi “sering” muncul karena kini informasi astronomi semakin mudah diakses dan tersebar luas melalui media digital.
Momen Langit dan Iman
Dengan waktu kejadian yang bertepatan dengan Ramadan dan berbuka puasa, gerhana Bulan total ini menjadi momen unik untuk menikmati keindahan langit sambil merefleksikan kebesaran Sang Pencipta. Masyarakat diimbau untuk mengamati fenomena ini dari tempat terbuka dengan pandangan ke arah timur dan cuaca cerah.
BMKG sebelumnya juga mengimbau masyarakat agar memanfaatkan fenomena ini untuk edukasi dan pengamatan ilmiah, serta tidak terpengaruh oleh mitos yang tidak berdasar.

