SUKABUMI – Sebuah ironi kemanusiaan kembali terjadi di Kabupaten Sukabumi. Ruas jalan kabupaten penghubung Desa Tanjungsari – Desa Bojong Tipar, Kecamatan Jampang Tengah, yang seharusnya menjadi jalur vital pelayanan publik, kini berubah menjadi simbol kelalaian negara.
Kondisi jalan yang rusak parah memaksa warga menggotong seorang warga sakit secara manual, karena kendaraan tidak mampu menjangkau lokasi. Peristiwa memilukan ini terekam dalam sebuah video yang viral di media sosial dan memantik kemarahan publik. Di tengah gencarnya jargon pembangunan, warga justru berjuang sendiri mempertahankan hak paling dasar: akses kesehatan.
“Ya Allah, sing dikuatkeun nu teu damangna. Sing dibukakeun mata para pajabat nu berwenang kana jalan ieu,” tulis seorang warga, menyuarakan doa sekaligus sindiran keras terhadap para pengambil kebijakan, Kamis (5/2/2026).
Baca Juga: DP3A Sukabumi Tegaskan Kasus Dugaan Rudapaksa Pelajar di Tegalbuleud Harus Diproses Hukum
Warga setempat menegaskan, kerusakan jalan tersebut bukan terjadi semalam, melainkan sudah berlangsung lama tanpa penanganan berarti. Padahal, ruas tersebut berstatus jalan kabupaten dan menjadi urat nadi aktivitas masyarakat—mulai dari distribusi hasil pertanian, pendidikan anak-anak, hingga akses darurat medis.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius, dimana fungsi pemerintah ketika warga harus mempertaruhkan nyawa di atas jalan rusak? Ketika seorang pasien harus digotong karena negara gagal menyediakan infrastruktur layak, maka yang hancur bukan hanya aspal, tetapi juga rasa keadilan dan kemanusiaan.
Warga berharap viralnya video ini tidak berhenti sebagai tontonan belas kasihan di media sosial, melainkan menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah untuk segera bertindak. Mereka menuntut tanggung jawab, bukan sekadar janji.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah desa maupun kecamatan terkait langkah penanganan kondisi jalan tersebut. Keheningan ini justru mempertegas kesan abainya negara terhadap jeritan warganya sendiri.

