SUKABUMI – Kerusakan jalan provinsi di wilayah Sukabumi kembali menuai sorotan publik. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam BEM PTNU Sukabumi Raya menggelar aksi demonstrasi di Kantor UPTD Pengelolaan Jalan dan Jembatan Wilayah II Sukabumi, Dinas BMPR Jawa Barat, Senin (12/1/2026) sore.
Massa aksi tiba sekitar pukul 14.30 WIB dengan membawa spanduk bernada kritik terhadap kinerja pengelola jalan. Aksi tersebut mendapat pengawalan dari aparat Polres Sukabumi Kota.
Koordinator Daerah BEM PTNU Sukabumi Raya, Aceng Sopian, menyampaikan bahwa unjuk rasa ini merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kondisi infrastruktur jalan yang dinilai semakin memprihatinkan, baik di Kabupaten maupun Kota Sukabumi.
Baca Juga: Semangat Gotong Royong di Tengah Hujan, Warga Desa Padajaya Peringati Hari Bakti Desa Nasional 2026
“Kami datang membawa suara keresahan masyarakat, terutama soal jalan-jalan provinsi yang kondisinya semakin rusak. Mulai dari tata kelola, pengawasan proyek, hingga pemeliharaan yang tidak maksimal,” ujar Aceng kepada wartawan.
Mahasiswa menyoroti proyek Tembok Penahan Tanah (TPT) Jabar Istimewa di Kampung Langkob, Desa Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, yang amblas meski baru selesai dibangun dengan anggaran sekitar Rp7 miliar. Mereka menduga kualitas pekerjaan tidak sesuai spesifikasi.
“Secara kasat mata terlihat banyak kejanggalan. Fondasinya tidak dilengkapi besi dan drainase hanya di bagian depan. Ini menunjukkan kegagalan konstruksi,” katanya.
Baca Juga: Ketua PN Kota Sukabumi Alami Kecelakaan Tunggal di Tol Jagorawi
Selain itu, kondisi Jalan Lingkar Selatan, khususnya ruas Letkol Edi Soekardi, juga menjadi perhatian karena disebut telah menyebabkan kecelakaan warga akibat lubang besar tanpa rambu peringatan.
“Pengawasan proyek masih lemah. Kontraktor yang punya rekam jejak buruk justru terus mendapat pekerjaan,” tambah Aceng.
Mahasiswa mengaku kecewa karena Kepala UPTD Pengelolaan Jalan dan Jembatan Wilayah II Sukabumi tidak hadir menemui massa aksi. Mereka pun memberikan tenggat waktu selama 3×24 jam agar pihak UPTD memberikan klarifikasi dan tindak lanjut atas tuntutan yang disampaikan.
Baca Juga: Evakuasi Longsor Terus Berlangsung, Jalur Bagbagan–Kiaradua Simpenan Masih Tertutup
Sementara itu, Kepala Sub Pemeliharaan Rutin UPTD Pengelolaan Jalan dan Jembatan Wilayah II BMPR Jawa Barat, Ajat Sudrajat, menyatakan pihaknya menghormati aspirasi mahasiswa dan akan menjadikannya sebagai bahan evaluasi internal.
“Untuk tembok penahan tanah di Nyalindung, laporan awal sudah kami terima dan akan segera kami cek langsung ke lapangan untuk mengetahui penyebab kerusakannya,” ujar Ajat.
Ia juga menjelaskan bahwa perbaikan Jalan Lingkar Selatan masuk dalam program pemeliharaan rutin, namun pelaksanaannya terkendala cuaca karena belum memungkinkan dilakukan pengaspalan hotmix.

