SUKABUMI – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, sejumlah tokoh nahdliyin mulai menyampaikan pandangan dan harapan terhadap masa depan organisasi. Salah satunya datang dari Pengasuh Pondok Pesantren Salafy Al Fathonah, KH Drs Ridwan Subagya S.HI.
KH Ridwan mengajak seluruh warga NU menjadikan berbagai dinamika yang terjadi belakangan ini sebagai bahan introspeksi bersama. Menurutnya, berbagai polemik yang mewarnai perjalanan organisasi harus menjadi pelajaran berharga agar tidak kembali terulang pada momentum muktamar mendatang.
“Muktamar harus menjadi momentum untuk menata ulang niat dan mengembalikan orientasi perjuangan NU kepada khidmah umat,” ujarnya kepada sukabumiku.id, Sabtu (30/05/2026).
Baca Juga: Long Weekend, Pantai Cibuaya Ramai Dikunjungi Wisatawan
Ia menegaskan bahwa NU merupakan organisasi yang dibangun dari perjuangan para ulama dengan landasan nilai-nilai spiritual yang kuat. Karena itu, proses regenerasi kepemimpinan harus dijauhkan dari kepentingan pragmatis yang berpotensi merusak marwah organisasi.
Dalam pandangannya, NU perlu tetap menjaga independensi dan posisi strategis di tengah kehidupan berbangsa. Organisasi keagamaan memiliki tanggung jawab moral untuk mendukung kebijakan pemerintah yang berpihak kepada rakyat, sekaligus berani memberikan masukan apabila terjadi kekeliruan.
“Marwah NU itu tak akan lahir dari menghujat apalagi menjilat,” tegasnya.
Baca Juga: Long Weekend, Pantai Muara Cigebang Dipadati Wisatawan dari Berbagai Daerah
Ia menilai hubungan antara NU dan pemerintah harus dibangun secara proporsional. Dukungan diberikan ketika kebijakan berpihak kepada masyarakat, sementara kritik disampaikan secara santun jika terdapat hal-hal yang perlu diperbaiki.
Selain itu, KH Ridwan juga menyoroti pentingnya mengembalikan fokus organisasi pada agenda keumatan. Menurutnya, NU harus lebih hadir dalam penguatan pendidikan pesantren, pemberdayaan ekonomi umat, serta pembinaan generasi muda, dibanding terlalu jauh terseret dalam dinamika politik praktis.
Ia mengungkapkan bahwa sebagian warga NU menginginkan organisasi kembali tampil sebagai rumah besar umat yang mengedepankan persatuan, kebijaksanaan, dan keteladanan.
Baca Juga: Korsleting Diduga Jadi Pemicu, Satu Keluarga di Gunungguruh Kehilangan Rumah Akibat Kebakaran
Secara keseluruhan, KH Ridwan menilai Muktamar NU ke-35 menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap arah perjalanan organisasi. Ia berharap seluruh peserta muktamar mengedepankan kejernihan hati dan semangat pengabdian dalam menentukan masa depan NU.
“Yang utama dan pertama adalah tata kelola niat untuk serius ngeruwat NU dengan segenap kejernihan hati,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh elemen nahdliyin untuk tetap menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, memperkuat komitmen dalam membela ulama, serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Baca Juga: 574 Warga Desa Cisaat Sukabumi Terima Bantuan Pangan Presiden untuk Maret-April 2026
Bagi KH Ridwan, keberhasilan Muktamar NU ke-35 tidak hanya diukur dari terpilihnya ketua umum baru, tetapi juga dari kemampuan organisasi dalam mengembalikan kepercayaan warga, memperkuat khidmah kepada umat, serta memulihkan marwah NU sebagai warisan besar ulama Nusantara.

