SUKABUMI – Misteri penemuan jenazah tanpa kepala di aliran Solokan Curug Darismin, Kampung Cikeresek, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, kini sepenuhnya berada di tangan tim medis forensik Polri. Kondisi jasad yang tidak utuh dan telah mengalami pembusukan berat menjadi tantangan utama dalam mengungkap identitas serta penyebab kematian korban.
Kepala RS Bhayangkara TK II Setukpa Polri, Kombes Pol dr. Carles Siagian, Sp.OT (K), menuturkan bahwa otopsi tetap akan dilakukan meski kondisi jenazah jauh dari ideal untuk proses identifikasi standar.
“Penanganan jenazah seperti ini membutuhkan kehati-hatian dan ketelitian tinggi. Beberapa organ penting tidak ditemukan, sehingga proses pengungkapan membutuhkan metode lanjutan,” kata dr. Carles, Jumat (9/1/2026).
Baca Juga: LBH-SON Resmi Kelola Posbakum PN Sukabumi, Perkuat Akses Keadilan bagi Warga Tidak Mampu
Menurutnya, tim medis belum dapat memastikan identitas dasar korban. Selain kepala yang hilang, kondisi pembusukan membuat ciri-ciri fisik sulit dikenali, bahkan untuk memastikan jenis kelamin dan perkiraan usia korban.
“Secara medis kami belum bisa menyimpulkan. Dugaan sementara mengarah ke laki-laki, tetapi itu belum bisa dijadikan kepastian sebelum otopsi selesai,” ujarnya.
Dalam upaya mengurai identitas korban, RS Bhayangkara Tk II Setukpa Polri bekerja sama dengan dokter forensik dari RS Bhayangkara Tk I Pusdokkes Polri. Pengambilan sampel DNA menjadi salah satu opsi utama, mengingat metode identifikasi konvensional tidak memungkinkan dilakukan.
“Pendekatan ilmiah menjadi jalan terakhir ketika identifikasi visual tidak dapat dilakukan,” jelasnya.
Di lapangan, kepolisian terus melakukan pengamanan dan pendalaman kasus. Lokasi penemuan masih dipasangi garis polisi, sementara penyisiran sungai dan olah TKP dilakukan untuk mencari petunjuk tambahan yang mungkin tertinggal di sekitar lokasi.
Polisi juga mengajak masyarakat berperan aktif dalam proses identifikasi. Warga yang kehilangan anggota keluarga dalam beberapa waktu terakhir diminta melapor dengan membawa data pendukung untuk keperluan pencocokan pasca-kematian.
“Kami berharap ada informasi dari masyarakat yang bisa membantu mempercepat proses identifikasi,” pungkas dr. Carles.
Kasus ini kini menjadi perhatian serius aparat, tidak hanya dari sisi penegakan hukum, tetapi juga dari sisi kemanusiaan, agar identitas korban dapat segera diketahui dan keluarga yang ditinggalkan memperoleh kepastian.

