Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha / Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Ada kalimat dalam agama yang sebenarnya sangat sederhana, tetapi akibat sosialnya luar biasa panjang. Salah satunya adalah sabda Nabi Muhammad Saw.:
وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي
“Sesungguhnya tidak ada nabi setelahku.”
Selesai. Titik.
Tidak ada nabi berikutnya. Tidak ada nabi tambahan. Tidak ada “versi terbaru” kenabian yang nanti muncul karena umat manusia merasa aplikasi spiritualnya perlu diperbarui. Kenabian selesai pada Muhammad Saw.
Tetapi rupanya, justru setelah kenabian ditutup, persoalan manusia tidak ikut ditutup. Malah semakin ramai. Nabi sudah tidak ada, sementara manusia tetap harus mengurus sekolah, kantor, negara, masjid, pesantren, organisasi, kampus, bahkan grup WhatsApp yang kadang lebih gaduh daripada parlemen.
Di sinilah hadis Abu Hurairah r.a. menjadi menarik. Rasulullah Saw. bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي، وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ.
قَالُوا: فَمَا تَأْمُرُنَا؟
قَالَ: فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ، وَأَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ، فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ.
Dari Abu Hurairah radhiyallah anhu, ia berkata : bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:
“Dahulu Bani Israil diurus oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi setelahku. Dan akan ada para khalifah setelahku, dan jumlah mereka akan banyak.”
Para sahabat bertanya, “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?”
Beliau shalallahu alaihi wa salam menjawab:
“Tunaikanlah baiat kepada yang pertama, kemudian yang pertama; berikanlah kepada mereka hak mereka. Sesungguhnya Allah Swt akan meminta pertanggung jawaban mereka atas apa yang telah Dia amanahkan kepada mereka.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim, muttafaqun ‘alaih)
Kalau diperhatikan, hadis ini sebenarnya sedang berbicara tentang dua hal sekaligus: berakhirnya kenabian dan dimulainya babak panjang tanggung jawab manusia.
Bani Israil dahulu memiliki nabi yang datang silih berganti. Kalau seorang nabi wafat, datang nabi berikutnya. Ada semacam “pembaruan kepemimpinan” langsung dari langit.
Tetapi umat Muhammad Saw. tidak mendapatkan mekanisme seperti itu.
Kenabian ditutup.
Allah Swt. berfirman:
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
“Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah Swt dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu.”
(QS. Al-Ahzab : 40)
Setelah itu, tidak ada nabi. Yang ada adalah manusia biasa yang harus mengurus manusia biasa.
Nah, di sinilah masalahnya.
Manusia biasa kadang-kadang merasa dirinya luar biasa.
Seorang pejabat bisa lupa bahwa ia pejabat. Yang lebih berbahaya, ia bisa lupa bahwa ia bukan nabi.
Ketika seseorang memperoleh jabatan, kadang yang pertama hilang bukan kewenangannya, melainkan ingatannya bahwa jabatan itu amanah. Meja kerjanya bertambah besar, tetapi kesadarannya tentang pertanggungjawaban justru mengecil.
Padahal Nabi Saw. sudah mengingatkan:
فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ
“Sesungguhnya Allah Swt akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa yang telah Dia amanahkan kepada mereka.”
Kalimat ini sebenarnya sangat menakutkan kalau direnungkan secara serius.
Allah tidak hanya bertanya: “Jabatanmu apa?”
Boleh jadi pertanyaannya justru: “Apa yang sudah kamu lakukan dengan jabatan itu?”
Bukan berapa banyak foto yang terpampang di baliho. Bukan berapa banyak sambutan yang sudah dibacakan. Bukan berapa kali nama disebut dalam acara resmi. Bukan pula berapa banyak orang yang berdiri ketika kita memasuki ruangan.
Yang akan ditanyakan adalah amanahnya.
Ini berlaku untuk presiden, menteri, kepala daerah, kepala madrasah, rektor, dekan, kepala kantor, ketua organisasi, bahkan ketua panitia pengajian.
Termasuk ketua grup WhatsApp.
Sebab kadang-kadang kekuasaan paling kecil justru menghasilkan kelucuan paling besar. Ada orang baru menjadi ketua panitia, lalu gaya bicaranya seperti baru saja menerima mandat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Padahal tugasnya hanya mengatur konsumsi.
Hadis ini mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan panggung untuk memperbesar diri. Ia adalah ruang untuk memperbesar tanggung jawab.
Karena itu, ketika para sahabat bertanya, “Apa yang harus kami lakukan?” Nabi tidak mengajarkan mereka untuk sibuk mencari siapa yang paling hebat. Nabi justru mengajarkan keteraturan, penghormatan terhadap hak, dan kesadaran bahwa pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.
Ini penting dalam kehidupan kita hari ini.
Kita sering terlalu sibuk bertanya apakah pemimpin kita hebat, pintar, populer, dekat dengan siapa, atau punya jaringan sebesar apa. Kita jarang bertanya: apakah ia memahami bahwa kepemimpinan adalah amanah?
Padahal ukuran moral kepemimpinan bukan hanya kemampuan memperoleh kekuasaan, tetapi kesanggupan mempertanggungjawabkannya.
Dan bagi rakyat atau orang yang dipimpin, hadis ini juga mengajarkan sesuatu: jangan mudah menjadikan pemimpin sebagai manusia setengah dewa. Pemimpin tetap manusia. Ia bisa benar, bisa salah, bisa lupa, bisa tergoda.
Karena itu, menghormati pemimpin tidak berarti menyembah pemimpin. Taat bukan berarti kehilangan akal sehat. Menjaga persatuan bukan berarti membiarkan kesalahan menjadi kebiasaan.
Kita membutuhkan keteraturan, tetapi keteraturan yang tetap memiliki hati nurani.
Nabi Muhammad Saw. adalah penutup para nabi. Sesudah beliau, tidak ada nabi yang datang untuk menyelesaikan pekerjaan manusia. Maka manusialah yang harus bekerja.
Tidak ada nabi baru yang akan datang membenahi sekolah kita.
Tidak ada nabi baru yang akan datang membereskan birokrasi kita.
Tidak ada nabi baru yang akan datang memperbaiki organisasi kita.
Yang ada adalah kita.
Dan mungkin justru itulah pesan paling dalam dari hadis ini: setelah kenabian ditutup, amanah dibuka selebar-lebarnya.
Jangan sampai kita sibuk mencari “orang suci” untuk memimpin, sementara kita sendiri malas menjadi orang yang bertanggung jawab.
Sebab pada akhirnya, jabatan akan selesai, masa kepemimpinan akan berakhir, foto akan diturunkan, baliho akan diganti, dan kursi akan diduduki orang lain.
Yang tersisa adalah pertanyaan Allah tentang apa yang pernah kita lakukan dengan amanah.
Maka barangkali pertanyaan paling penting bukan: “Siapa yang sedang memimpin?”
Melainkan: “Apa yang sedang kita lakukan ketika diberi kesempatan untuk memimpin?”
Sebab Nabi terakhir sudah datang.
Pesannya sudah disampaikan.
Kenabiannya sudah ditutup.
Sekarang giliran kita belajar menjadi manusia yang amanah.
Dan itu, ternyata, jauh lebih sulit daripada sekadar memakai peci, jas, atau duduk di kursi pimpinan.
Wallahu ‘alamu

