Berita UtamaKabupaten Sukabumi

Kisah Panjang Masjid Agung Palabuhanratu, dari Wakaf Warga hingga Ikon Kota

×

Kisah Panjang Masjid Agung Palabuhanratu, dari Wakaf Warga hingga Ikon Kota

Sebarkan artikel ini

SUKABUMI – Berdiri menghadap hiruk-pikuk pusat ibu kota Kabupaten Sukabumi, Masjid Agung Palabuhanratu menjadi penanda perjalanan panjang masyarakat pesisir selatan Sukabumi dalam merawat ruang ibadah yang sarat makna. Bangunan ini tak sekadar tempat salat, melainkan saksi perubahan zaman sejak hampir satu abad lalu.

Masjid Agung Palabuhanratu dibangun pada 1926, di masa kolonial, di atas lahan wakaf warga Kampung Pakauman, sebutan lama kawasan Palabuhanratu. Dari tanah wakaf itulah, sebuah ruang ibadah tumbuh dan perlahan berkembang mengikuti denyut kehidupan kota yang kian ramai.

Lokasinya strategis di Jalan Siliwangi, tepat di sisi barat Alun-alun Palabuhanratu. Akses yang mudah membuat masjid ini selalu ramai, baik oleh warga setempat maupun pendatang yang singgah untuk menunaikan ibadah.

Baca Juga: Hari Pertama Ramadan, Warga Padati Alun-Alun Palabuhanratu untuk Ngabuburit

Secara fisik, bangunan masjid tampak kokoh dengan denah hampir persegi dan menjulang hingga tiga lantai. Dua menara berdiri di bagian depan, satu lebih rendah dari kubah utama, sementara satu lainnya menjulang lebih tinggi dan berfungsi sebagai penyangga pengeras suara.

Kubah dan menara dibentuk dari beton dengan konstruksi bertumpuk yang menyisakan rongga di bagian dalamnya. Desain ini membuat kubah terlihat seperti cangkang berlapis, sekaligus membantu meredam panas dari luar.

Bagian dalam masjid didominasi dinding kaca di sisi samping dan belakang. Langit-langit yang tinggi memberi sirkulasi udara lebih baik, sehingga ruangan tetap sejuk meski dipenuhi jamaah.

Baca Juga: Ormat yang Terafiliasi Israel Menang Proyek Panas Bumi di Halmahera Barat

Dari lantai atas, pandangan dapat melayang ke arah laut lepas. Pada hari cerah, birunya Samudra Hindia terlihat jelas, menjadi latar yang menenangkan bagi jamaah yang ingin sejenak menepi dari rutinitas kota.

Masjid ini mampu menampung sekitar 1.300 jamaah saat penuh. Lantai dasar dan lantai dua masing-masing menampung ratusan orang, sementara lantai paling atas berdenah lebih kecil. Kondisi ini kerap membantu ketika hujan turun pada momen salat Id atau Idul Adha.

Jejak arsitektur kolonial masih terasa pada detail tiang dan kaki menara yang bertekstur kasar dengan balutan warna hijau. Nuansa lawas tersebut menyatu dengan sentuhan modern hasil renovasi berkala yang menjaga bangunan tetap fungsional.

Baca Juga: Ahmad Sahroni Kembali Duduk di Pimpinan Komisi III DPR, Ini Alasan Nasdem

Aktivitas di masjid tak berhenti pada salat lima waktu. Ruang-ruang di dalamnya hidup oleh kegiatan belajar mengaji, TPA, hingga pengajian rutin yang menjadi bagian dari pembinaan karakter masyarakat sekitar.

Di tengah keterbatasan lahan parkir karena berada di tepi jalan utama, masjid ini tetap menjadi tujuan utama umat. Kendaraan sering berjajar di pinggir jalan, menandai ramainya aktivitas ibadah di kawasan tersebut.

Hampir satu abad sejak pertama kali berdiri, Masjid Agung Palabuhanratu tetap memikul peran yang sama: menjadi ruang teduh bagi warga kota, tempat bersandar di tengah riuh pesisir, sekaligus penanda bahwa sejarah masih hidup di jantung Palabuhanratu.