Berita Utama

Kisah Pilu Pudin Mahpudin : Hidup di Rumah Reyot, Berpenghasilan Serabutan, dan Istri Derita Katarak

×

Kisah Pilu Pudin Mahpudin : Hidup di Rumah Reyot, Berpenghasilan Serabutan, dan Istri Derita Katarak

Sebarkan artikel ini

SUKABUMI – Kehidupan serba kekurangan masih dialami sebagian warga di pelosok Kabupaten Sukabumi. Salah satunya Pudin Mahpudin (60), warga Kampung Ciseureuh RT 42 RW 12, Desa Cijulang, Kecamatan Jampangtengah.

Bersama istrinya, Nur Aeni (50), ia harus berjuang meniti kehidupan di tengah keterbatasan ekonomi dan kondisi rumah yang jauh dari layak huni.

Rumah panggung yang ditempati pasangan ini berdinding anyaman bambu yang mulai rapuh dan berlubang. Atapnya bocor, lantainya reyot, hingga membuat malam terasa dingin menusuk.

“Rumah ini merupakan hasil swadaya warga sini. Mau diperbaiki juga tidak bisa, karena memang tidak ada biayanya,” ungkap Pudin.

Dari pantauan lapangan, kondisi rumah memang memprihatinkan. Selain rapuh, rumah tersebut bahkan tidak memiliki jamban. Selama ini, Pudin dan istrinya terpaksa menggunakan selokan sebagai tempat buang air. “Ya kalau buang air besar atau kecil larinya ke selokan, karena tidak mempunyai kamar mandi. Tidak punya apa-apa,” katanya.

Kesulitan semakin bertambah dengan kondisi kesehatan istrinya, Nur Aeni, yang sudah enam tahun terakhir menderita katarak hingga mengalami kebutaan. Ironisnya, ia belum pernah berobat lantaran tak memiliki biaya.

“Semakin lama makin parah, ya belum pernah berobat, karena kami tidak mempunyai biaya. Tidak punya BPJS kesehatan, ada KIS itupun sudah tidak bisa digunakan,” tutur Pudin.

Untuk kebutuhan sehari-hari, Pudin bekerja serabutan dengan penghasilan tidak menentu. “Pendapatan saya hanya sekitar Rp20.000 per hari, itupun tidak selalu ada. Kadang-kadang tidak ada sama sekali,” ujarnya.

Lebih memprihatinkan lagi, Pudin mengaku selama 17 tahun tinggal di rumah tersebut belum pernah mendapat bantuan apapun dari pemerintah. Ia pun berharap ada perhatian dan uluran tangan dari pihak berwenang, terutama untuk pengobatan istrinya serta perbaikan rumah mereka.

“Dengan harapan yang besar, saya memohon kebijakan pemerintah untuk membantu masyarakat kecil seperti saya. Saya bersedia menerima bantuan dalam bentuk apapun, asalkan dapat membantu meningkatkan kualitas hidup saya dan istri saya,” pinta Pudin dengan mata berkaca-kaca. (Ky)