SUKABUMI – Kasus dugaan pungutan liar (pungli) kembali mencuat di Kabupaten Sukabumi. Seorang warga berinisial Sonia (26), asal Kampung di daerah Cemerlang, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, melaporkan dirinya menjadi korban praktik pungli terkait rekrutmen tenaga kerja di PT GSI Kabupaten Sukabumi.
Pada Senin (15/9/2025), Sonia mendatangi pos pengaduan staf KDM di Lembur Pakuan, Subang, kediaman Gubernur Jawa Barat. Kehadirannya untuk menyampaikan langsung kronologi dugaan pungli yang dialami, sekaligus meminta pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap oknum-oknum yang terlibat.
Dalam keterangannya, Sonia mengungkapkan bahwa banyak warga Sukabumi yang kesulitan mendapatkan pekerjaan di kampung halamannya sendiri, bahkan harus rela mengeluarkan biaya besar akibat ulah oknum calo.
“Harapan saya setelah melapor ke pos pengaduan KDM, para oknum pungli di pabrik Kabupaten Sukabumi bisa ditindak keras. Termasuk jika memang ada orang dalam perusahaan yang ikut bermain,” katanya.
Kasus yang sempat viral di media sosial ini mendapat perhatian dari pihak Lembur Pakuan. Laporan Sonia disebut sudah diteruskan kepada KDM untuk ditindaklanjuti.
“Tadi saya sudah bertemu stafnya, dan laporan sudah diteruskan ke Pak KDM agar segera ditindaklanjuti,” tambah dia.
Sebelumnya, sebuah video viral di media sosial dengan narasi soal buruh pabrik depresi karena PHK. Mirisnya, buruh itu disebut sudah membayar Rp 8,5 juta untuk bekerja di pabrik sepatu ternama yang ada di Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi.
Redaksi sukabumiku.id berkesempatan bertemu dengan pengunggah video yang diketahui berinisial Rizal (27). Warga salah satu kampung di daerah Cemerlang, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi ini menceritakan kronologi lengkap ihwal dugaan pungli masuk pabrik dan kondisi terkini sang istri, Sonia (26).
“Ya benar, yang ada di video itu istri saya. Sekarang dia ada di rumah mertua namun belum bisa diajak banyak ngobrol dan masih banyak melamun karena syok mungkin,” ujar ZA ditemui di rumahnya, Selasa (09/09/2025).
ZA menceritakan kondisi sang istri berubah setelah pulang kerja dari pabrik pada Senin 8 September. SA lebih banyak melamun dan menangis serta sulit diajak ngobrol.
Ia pun harus berusaha membujuk sang istri yang terlihat sangat sedih. Sampai akhirnya SA bercerita ihwal apa yang Ia alami di pabrik.
“Istri saya akhirnya cerita bahwa dia diancam PHK. Sementara istri saya masuk ke pabrik itu bayar Rp 8,5 juta, mungkin itu yang jadi beban pikiran dia,” ujarnya. (Ky)

