Jawa Barat

Mahasiswa Bandung Geruduk BI, Tuntut Penjelasan Pelemahan Rupiah dan Kebijakan Pemerintah

×

Mahasiswa Bandung Geruduk BI, Tuntut Penjelasan Pelemahan Rupiah dan Kebijakan Pemerintah

Sebarkan artikel ini
Aksi mahasiswa di depan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat di Kota Bandung, Senin (15/06/2026). (Foto: Tangkapan Layar Video/Facebook/Dudi Sugandi)

BANDUNG – Gelombang kritik terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah kembali mengemuka di Kota Bandung. Sejumlah mahasiswa dari Universitas Pasundan (Unpas) dan Universitas Jenderal Ahmad Yani (Unjani) menggelar aksi di depan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat, Senin (15/06/2026).

Aksi tersebut tidak hanya menyoroti melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, tetapi juga melebar ke berbagai isu lain seperti kenaikan harga bahan bakar minyak, program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga kondisi demokrasi nasional.

Dikutip dari Detik, Koordinator aksi dari BEM Fakultas Hukum Unpas, Muamar Ba’asir, menegaskan bahwa aksi ini membawa sejumlah tuntutan penting.

Baca Juga: Tak Sekadar Monitoring, Korwil SPPG dan Satgas MBG Siap Kawal Kualitas Program di Kota Sukabumi

“Hari ini kita membahas beberapa poin tuntutan, mulai dari naiknya harga dolar dan melemahnya rupiah, kemudian bagaimana negara menekan harga BBM, hingga tata kelola MBG,” ujar Muamar.

Menurut Muamar, pelemahan rupiah tidak bisa dianggap persoalan biasa karena dampaknya langsung dirasakan masyarakat luas. Ia bahkan melontarkan kritik tajam terhadap pemerintah dengan mengatakan, “Rezim hari ini sudah bertindak seenaknya, melanggar aturan dan konstitusi.”

Mahasiswa sengaja memilih lokasi aksi di depan Bank Indonesia untuk meminta penjelasan langsung. “Kami ingin mendengar klarifikasi dari pihak BI kenapa hari ini rupiah melemah,” ujarnya.

Meski demikian, hingga aksi berlangsung, mahasiswa belum berhasil menemui perwakilan Bank Indonesia. Muamar memastikan gerakan mereka akan terus berlanjut. “Setelah ini kami akan fokus pada penyadaran sosial kepada masyarakat bahwa negara kita sedang tidak baik-baik saja,” katanya.

Baca Juga: Momen Akhir Tahun Hijriah 1447 H, Ini Waktu dan Amalan Doa yang Dianjurkan

Sementara itu, Wakil Ketua BEM Fakultas Ilmu Teknologi Kesehatan Unjani, Zihan Fitriyani, menilai aksi tersebut merupakan bentuk perjuangan atas keresahan masyarakat.

Menurut Zihan, program tersebut justru berpotensi membebani anggaran negara. Ia menyebut program ini merongrong anggaran APBN, sehingga sektor pendidikan dan kesehatan ikut terdampak.

Ia juga menyoroti lemahnya transparansi pemerintah dalam merespons pelemahan rupiah. “Memang ini isu global, tapi sampai sekarang tidak ada kebijakan yang jelas dan transparansi dari pemerintah,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Zihan turut menyinggung adanya mahasiswa yang diamankan aparat saat menyampaikan aspirasi.  “Ada teman kami yang menjadi tahanan politik hanya karena menyuarakan haknya sebagai mahasiswa dan masyarakat,” kata dia.

Baca Juga: Jerman dan Swedia Tampil Perkasa, Belanda Ditahan Jepang

Ia pun menegaskan tuntutan mereka terhadap kondisi demokrasi saat ini. “Kami meminta keadilan setinggi-tingginya, karena hak demokrasi harus diperjuangkan. Indonesia saat ini sedang mengalami krisis demokrasi,” tegasnya.

Aksi mahasiswa tersebut berlangsung di bawah pengamanan ketat aparat kepolisian. Selama demonstrasi, arus lalu lintas di Jalan Perintis Kemerdekaan sempat ditutup sementara guna menjaga ketertiban dan kelancaran kegiatan.