SUKABUMI – Malam Nisfu Sya’ban merupakan salah satu malam istimewa dalam kalender Islam yang sarat dengan nilai spiritual, ampunan, serta limpahan rahmat Allah SWT.
Malam yang jatuh pada pertengahan bulan Sya’ban ini diyakini sebagai waktu turunnya rahmat dan pengampunan bagi hamba-hamba-Nya.
Pimpinan Pondok Pesantren Dzikir Alfath, KH Fajar Laksana, menjelaskan bahwa keutamaan Malam Nisfu Sya’ban memiliki landasan kuat dalam Al-Qur’an, hadits Nabi Muhammad SAW, serta penjelasan para ulama.
Dalam Al-Qur’an, Allah menyebut adanya malam yang diberkahi sebagaimana tertuang dalam QS Ad-Dukhan ayat 3. Para ulama menafsirkan malam penuh keberkahan tersebut sebagai Malam Nisfu Sya’ban, malam di mana rahmat Allah turun ke langit dunia dan pengampunan diberikan kepada sebagian besar makhluk-Nya.
Hal ini diperkuat oleh hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan dari Aisyah RA, bahwa pada malam Nisfu Sya’ban Allah menurunkan rahmat-Nya dan mengampuni dosa hamba-hamba-Nya, kecuali mereka yang masih menyimpan kemusyrikan dan permusuhan.
HIKMAH DAN AMALIYAH MALAM NISFU SYA’BAN
KH Fajar Laksana menuturkan, Malam Nisfu Sya’ban menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah dan introspeksi diri. Beberapa amaliyah yang dianjurkan antara lain:
1. Shalat sunnah dan istighfar, sebagai bentuk memohon ampunan dan pertolongan kepada Allah SWT.
2. Puasa sunnah pada siang hari tanggal 15 Sya’ban atau digabung dengan puasa Ayyamul Bidh (13–15 Hijriah).
3. Memperbanyak dzikir dan doa, karena pada malam ini amal perbuatan diangkat dan dilaporkan kepada Allah SWT.
4. Membaca Al-Qur’an, yang secara tradisi banyak ulama menganjurkan membaca Surah Yasin sebanyak tiga kali dengan niat memohon umur panjang dalam ketaatan, ampunan dosa, dan kelapangan rezeki.
5. Bersedekah, sebagai sarana membersihkan harta dan menyempurnakan amal ibadah.
Selain itu, Malam Nisfu Sya’ban juga diyakini sebagai waktu diserahkannya catatan amal manusia dan ditetapkannya takdir untuk satu tahun ke depan. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan memohon ketetapan hidup yang baik.
“Momentum Nisfu Sya’ban hendaknya dijadikan sarana mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan hati, serta mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadhan,” ujar KH Fajar Laksana.

