Pendidikan

Memaknai Hari Guru Nasional dalam Konteks Transformasi Pendidikan Indonesia

×

Memaknai Hari Guru Nasional dalam Konteks Transformasi Pendidikan Indonesia

Sebarkan artikel ini
Reni Munawaroh.
Reni Munawaroh. Foto: Istimewa

Oleh: Reni Munawaroh (Pengawas PAI/Pemerhati Pendidikan Sukabumi)

Hari Guru Nasional (HGN) setiap tahun diperingati sebagai momentum reflektif bagi para pendidik dan pemangku kepentingan pendidikan di Indonesia. Peringatan ini tidak hanya dirayakan secara seremonial, tetapi juga menjadi ruang untuk menimbang kembali peran strategis guru dalam menghadapi dinamika zaman. Euforia yang muncul bahkan sering kali melampaui hari peringatannya, menunjukkan kuatnya posisi guru sebagai figur sentral dalam ekosistem pendidikan nasional.

Tema HGN 2025, *“Guru Hebat, Indonesia Kuat”*, merepresentasikan visi besar untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Pemerintah, melalui berbagai kebijakan, telah menginisiasi program peningkatan kompetensi guru, seperti pelatihan luring mengenai pembelajaran mendalam, pemanfaatan kecerdasan buatan, serta pengenalan literasi digital dan pemrograman. Upaya tersebut dilengkapi dengan program-program penguatan karakter, antara lain MBG dan Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yang bertujuan memperkuat fondasi moral dan ketahanan generasi muda.

Baca Juga: Kado Hari Guru Nasional dari Pemerintah, Insentif Honorer Naik jadi Rp 400 Ribu

Meskipun demikian, efektivitas berbagai program tersebut masih memerlukan kajian lebih dalam. Dari perspektif praktisi pendidikan, perubahan kebijakan yang cenderung mengikuti pergantian kepemimpinan di kementerian sering menimbulkan ketidakkonsistenan arah. Akibatnya, guru kerap berada dalam posisi adaptasi berulang yang menguras energi, sementara fokus utama mereka—yakni proses pembelajaran yang bermakna—menjadi kurang optimal. Tidak sedikit program yang pada akhirnya lebih menonjolkan aspek administratif atau formalitas, dibandingkan dampak nyata terhadap kualitas proses belajar-mengajar.

Oleh karena itu, evaluasi komprehensif perlu dilakukan untuk memastikan bahwa kebijakan peningkatan mutu guru benar-benar menjawab kebutuhan lapangan. Peningkatan profesionalisme guru tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah pelatihan, melainkan oleh relevansi materi, keberlanjutan pendampingan, serta kesempatan guru untuk mengembangkan praktik reflektif dalam keseharian mengajar.

Baca Juga: Termasuk Sukabumi, Dedi Mulyadi Canangkan Lima Proyek Besar Kereta Api di Jawa Barat

Pada akhirnya, esensi profesi guru tidak dapat direduksi hanya pada peran sebagai penyampai pengetahuan. Di tengah kemajuan teknologi, termasuk hadirnya kecerdasan buatan yang mampu menyediakan informasi secara cepat dan akurat, guru justru semakin dituntut berperan sebagai fasilitator pembelajaran, pembimbing karakter, dan figur yang menghadirkan kehadiran emosional bagi peserta didik. Dimensi inilah yang tidak dapat digantikan oleh teknologi apa pun.

Memaknai Hari Guru Nasional seharusnya tidak berhenti pada rutinitas peringatan, melainkan menjadi ajang memperdalam komitmen bersama untuk memperkuat kapasitas guru secara substansial. Guru yang hebat tidak hanya dibentuk oleh kebijakan yang tepat, tetapi juga oleh kesadaran profesional, integritas, dan dedikasi untuk membimbing generasi muda menuju masa depan Indonesia yang kuat.