Berita SukabumiLifestyle

Membanggakan! Batik Fractal dan LPS Antar Batik Sukabumi-Cianjur Tampil di Paris

×

Membanggakan! Batik Fractal dan LPS Antar Batik Sukabumi-Cianjur Tampil di Paris

Sebarkan artikel ini

SUKABUMI – Upaya memajukan batik tradisional Indonesia mencapai tonggak baru ketika 30 UMKM batik dan ecoprint dari Sukabumi dan Cianjur tampil di panggung internasional Front Row Paris 2025, pada 6 September lalu. Acara ini digelar di kota mode dunia, Paris, Prancis, dan menjadi ajang bergengsi bagi para pelaku industri kreatif untuk memperkenalkan karya mereka ke pasar global.

Kolaborasi ini digagas oleh Rumah Batik Fractal dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melalui program pendampingan yang telah berjalan sejak 2022. Program tersebut bertujuan membentuk sentra batik baru yang berbasis teknologi digital dan memiliki daya saing internasional.

Direktur Batik Fractal, Nancy Margried, menjelaskan dalam sesi evaluasi daring bertajuk “After-Show Chat with Batik Fractal” pada Kamis (18/9/2025), bahwa banyak pelaku UMKM batik Sukabumi dan Cianjur yang awalnya hanya memproduksi batik sebagai usaha kecil atau sekadar hobi. Namun, melalui pelatihan intensif yang didukung LPS, mereka kini mampu menghasilkan karya dengan standar kelas dunia.

“Batik Fractal hadir bukan hanya sebagai fasilitator, tetapi sebagai perancang program yang berkelanjutan. Paris dipilih karena kota ini menjadi pusat mode dunia dan tempat para buyer mencari tren baru yang akan mempengaruhi industri fesyen global,” ungkap Nancy dikutip sukabumiku.id dari keterangan pers, Sabtu (21/09/2025).

Program yang diinisiasi bersama Purbaya Yudhi Sadewa saat masih menjabat Ketua LPS ini didanai oleh LPS melalui program sosial “LPS Peduli, Bakti Bagi Negeri”. Sementara, pembiayaan peragaan busana di Paris ditanggung Batik Fractal sebagai perusahaan sosial.

Dalam puncak acara, sepuluh koleksi busana ditampilkan hasil kolaborasi 17 UMKM fesyen dan 13 UMKM kriya batik. Motif yang diusung bertema Whispering Forest, terinspirasi dari bentang alam Parahyangan seperti gunung, hutan, dan budaya lokal. Semua motif dirancang menggunakan perangkat lunak jBatik, sebuah teknologi ciptaan Batik Fractal yang mempercepat proses desain dan menghadirkan motif yang modern tanpa meninggalkan akar tradisi.

Nancy menilai, pencapaian terbesar dari tampil di Paris adalah meningkatnya rasa percaya diri para perajin. “Karya yang dulu mereka buat di desa kini bisa berdiri di panggung dunia. Ini menjadi portofolio penting untuk membuka peluang bisnis ke depan,” ujarnya.

Keikutsertaan para pelaku UMKM ini juga disambut hangat oleh Ali Charisma, Project Director Indonesian Fashion Chamber (IFC). Ia menegaskan pentingnya membawa fesyen Indonesia tampil dengan identitas asli, bukan sekadar menyesuaikan selera pasar luar negeri.

Sementara itu, Dubes RI untuk Prancis, Mohammad Oemar, menyatakan kebanggaannya atas pencapaian ini. Menurutnya, karya desainer muda Indonesia menunjukkan bahwa fesyen bukan hanya tentang gaya, tetapi juga identitas dan dialog antarbangsa.

Nancy menambahkan, setelah Paris, pihaknya akan melanjutkan langkah internasional dengan mengikuti Osaka Expo, serta menjajaki pameran lain untuk memperluas pasar batik Indonesia. Tantangan ke depan, kata dia, adalah menjaga momentum dan menjalin kerja sama dengan buyer internasional agar batik tetap relevan dan kompetitif di pasar global.