SUKABUMI – Museum Prabu Siliwangi dan Museum Keramik Al-Fath di Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath, Kota Sukabumi, kini menempati gedung baru yang lebih representatif untuk menunjang pelestarian, penelitian, dan edukasi warisan budaya.
Gedung baru kedua museum tersebut diresmikan pada Kamis (6/8/2026) oleh Direktur Warisan Budaya Direktorat Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI, Agus Widiatmoko.
Peresmian turut dihadiri Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana, akademisi, budayawan, serta sejumlah unsur masyarakat.
Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp50.000, Tembus Rp2,679 Juta per Gram
Pimpinan Ponpes Modern Dzikir Al-Fath, KH Muhammad Fajar Laksana, mengatakan pemindahan koleksi ke gedung yang lebih representatif tidak terlepas dari hasil kajian ilmiah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
“Hasil penelitian BRIN menunjukkan banyak koleksi yang memiliki nilai sejarah dan nilai artefak yang sangat tinggi. Karena itu diperlukan ruang yang lebih representatif agar proses pelestarian, penyimpanan, penelitian, dan edukasi dapat berjalan secara optimal,” ujar Fajar.
Salah satu perubahan penting dari penataan tersebut adalah pemisahan koleksi keramik yang sebelumnya berada dalam satu ruang bersama koleksi Museum Prabu Siliwangi.
Baca juga: Komisi I DPRD Sukabumi Usul Tes Rambut Jadi Syarat Calon Kades di Pilkades 2027
Menurut Fajar, hasil penelitian merekomendasikan koleksi keramik ditempatkan pada museum tersendiri karena memiliki karakteristik dan nilai sejarah yang berbeda.
Sedikitnya hampir 500 koleksi keramik telah diidentifikasi memiliki usia, karakteristik, serta nilai historis yang beragam.
“Dulu seluruh koleksi berada dalam satu museum. Setelah melalui penelitian yang mendalam, para ahli merekomendasikan agar koleksi keramik memiliki ruang tersendiri karena menyimpan kekayaan sejarah yang luar biasa,” katanya.
Baca juga: Polres Sukabumi Beberkan Kronologi Diamankannya Kades Tamanjaya dalam Kasus Sabu
Dengan pemisahan tersebut, masyarakat kini dapat mengunjungi Museum Prabu Siliwangi dan Museum Keramik Al-Fath dengan fokus koleksi yang berbeda.
Keberadaan gedung baru juga diharapkan memperluas fungsi museum, tidak sebatas menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi sebagai ruang pembelajaran dan penelitian yang dapat dimanfaatkan pelajar, mahasiswa, akademisi hingga masyarakat umum.
Fajar mengatakan museum diharapkan menjadi salah satu sarana bagi generasi muda untuk mengenal sejarah dan perjalanan kebudayaan Nusantara secara lebih dekat.
“Harapan kami museum ini tidak hanya menjadi tempat menyimpan benda bersejarah, tetapi menjadi ruang belajar yang hidup,” ujarnya.
Baca juga: DPRD Sukabumi Setujui Raperda Disabilitas, Perlindungan Hak dan Akses Layanan Diperkuat
“Semoga semakin banyak generasi muda yang mengenal sejarah, memahami perjalanan peradaban Nusantara, serta menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya bangsa,” tambahnya.
Kehadiran dua museum dengan ruang koleksi yang lebih terfokus tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Ponpes Modern Dzikir Al-Fath memperkuat pelestarian warisan budaya sekaligus mengembangkan museum sebagai pusat edukasi budaya di Kota Sukabumi.

