SUKABUMI – BIPP (Baresan Incuputu Pangauban) Cimandiri sukses menggelar Gernaka Pamungkas Hajat Balarea ke-9 dengan mengusung tema “Patanjala Pangaweruh Baheula, Mustari nyanding kiwari”.
Acara yang bermakna “Patanjala sebagai paradigma orang dahulu tetap relevan dengan kondisi saat ini” ini menjadi wadah evaluasi dan refleksi perjalanan organisasi selama satu tahun terakhir.
Ketua Panitia, R. Gusgus Sugara, menyampaikan bahwa hajat balarea ini mengundang perwakilan incuputu pangauban dari berbagai daerah aliran sungai, seperti Ciliwung, Cisanggarung, Citarum, Cisadane, Ciwulan, Cibareno, Cimanuk, Cisanggiri, Citanduy, serta melibatkan kasepuhan adat Banten Kidul, perwakilan DPRD, tokoh agama, OPD, dan beragam komunitas peduli lingkungan.
Baca Juga: Dua Pemancing Hilang Terseret Ombak di Pantai Cikeueus, Tim SAR Lakukan Pencarian
“Dalam setahun terakhir, incuputu pangauban Cimandiri aktif melakukan diskusi dan kajian lapangan di beberapa titik lokasi bencana menggunakan pengetahuan tradisional Patanjala,” ujar Gusgus.
Hasil dari kajian tersebut telah diserahkan kepada pemangku kebijakan di Pemerintah Kabupaten Sukabumi, dengan harapan dapat menjadi rujukan dalam merumuskan kebijakan, khususnya di bidang tata ruang.
Acara ini juga dihadiri oleh Bayu Permana, Ketua Bapemperda DPRD Kabupaten Sukabumi, yang menyoroti komposisi kawasan lindung di Sukabumi. Ia mengatakan dalam RPJMD Kabupaten Sukabumi, kawasan lindung hanya 12 persen, sementara 88 persen lainnya merupakan kawasan budidaya dan pemukiman.
Data ini, menurutnya, penting untuk direfleksikan bersama mengingat dalam beberapa tahun terakhir Sukabumi kerap dilanda banjir, pergeseran tanah, longsor, dan bencana lainnya yang menimbulkan kerugian material.
Baca Juga: Kecelakaan di Ciaul Sukabumi, Angkot Merah Terbalik Dihantam Fortuner Hitam
DPRD Kabupaten Sukabumi melalui Fraksi PKB menerima dokumen rekomendasi kebijakan yang diserahkan oleh incuputu pangauban Cimandiri. Bayu menilai bahwa langkah ini merupakan ikhtiar untuk mendorong peningkatan indeks kualitas lingkungan hidup dan indeks pemajuan kebudayaan di Sukabumi.
“Aspirasi dari incuputu pangauban Cimandiri tersebut telah diperjuangkan melalui Perda Pelestarian Pengetahuan Tradisional Patanjala dalam Perlindungan Sumber Air. Perda ini diharapkan dapat berkontribusi mewujudkan Sukabumi yang Mubarokah,” kata Bayu.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga bukti nyata komitmen bersama dalam melestarikan kearifan lokal untuk pembangunan berkelanjutan di Sukabumi.

