JAKARTA – Tingginya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi di Indonesia menjadi perhatian. Pengamat pendidikan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tadjuddin Noer Effendi menilai, salah satu penyebabnya adalah ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja.
Menurut Tadjuddin, perguruan tinggi masih banyak memberikan pembelajaran yang berorientasi pada teori. Sementara itu, dunia usaha membutuhkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan praktis dan mampu beradaptasi dengan pekerjaan sejak awal.
“Dunia pendidikan dengan dunia kerja itu enggak match. Dunia pendidikan terlalu banyak memberi teori,” kata Tadjuddin, Kamis (20/8/2026).
Baca Juga : Resep Jamu Anti Maag, Minuman Tradisional dari Jahe dan Kunyit
Ia menilai, kondisi tersebut membuat ijazah perguruan tinggi tidak lagi menjadi satu-satunya modal untuk mendapatkan pekerjaan.
Perusahaan kini cenderung mencari calon pekerja yang sudah memiliki keterampilan dan pengalaman. Hal itu dilakukan karena perusahaan harus mengeluarkan biaya tambahan apabila harus memberikan pelatihan kepada pekerja baru.
“Kalau cuma bermodalkan ijazah, itu enggak laku sekarang. Yang ditanya sama perusahaan itu, kamu bisa kerja apa? Keterampilanmu apa? Sudah punya pengalaman kerja belum?” ujarnya.
Soft skill hingga kemampuan digital dibutuhkan
Tadjuddin menyebut sejumlah bidang studi yang memiliki jumlah pengangguran relatif tinggi justru berasal dari jurusan yang banyak diminati masyarakat, seperti manajemen, hukum, ekonomi, pendidikan, akuntansi, hingga ilmu komputer.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa bertambahnya jumlah lulusan perguruan tinggi belum tentu sejalan dengan kebutuhan pasar kerja.
Karena itu, lulusan perguruan tinggi perlu memiliki kemampuan tambahan di luar kompetensi akademik. Beberapa keterampilan yang dinilai semakin dibutuhkan antara lain soft skill, kemampuan digital, kewirausahaan, serta green skill.
“Yang dibutuhkan itu keterampilan-keterampilan yang bersifat soft skill, kemudian digital skill, entrepreneur skill, green skill. Itu yang dibutuhkan,” katanya.
Di sisi lain, perubahan teknologi juga membuat dunia usaha semakin mengutamakan efisiensi. Digitalisasi dan otomatisasi menyebabkan sejumlah pekerjaan yang bersifat rutin semakin berkurang.
Jika kurikulum dan metode pembelajaran tidak mengikuti perubahan tersebut, jarak antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri dikhawatirkan semakin lebar.
Magang dinilai penting
Tadjuddin menilai hubungan antara perguruan tinggi dan dunia usaha perlu diperkuat. Salah satunya melalui program magang yang dapat memberikan pengalaman kerja kepada mahasiswa sebelum mereka benar-benar memasuki pasar kerja.
Namun, menurut dia, kapasitas program magang saat ini masih belum sebanding dengan jumlah mahasiswa dan lulusan yang membutuhkan pengalaman kerja.
Pemerintah juga dinilai perlu memastikan kebijakan pendidikan dan ketenagakerjaan disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar kerja.
Penambahan jumlah lulusan perguruan tinggi tanpa diikuti peningkatan relevansi kompetensi dan ketersediaan lapangan pekerjaan justru berpotensi memperbesar persoalan pengangguran terdidik.
Tadjuddin juga menyoroti rencana pembangunan 10 Universitas Republik Indonesia. Menurutnya, persoalan pengangguran sarjana tidak cukup diselesaikan dengan menambah jumlah perguruan tinggi.
Hal yang lebih penting, kata dia, adalah memastikan lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja sekaligus memperluas kesempatan kerja.
“Jadi paradoks. Jadi pemerintah sebaiknya jangan bikin kebijakan yang aneh-aneh gitu. Pemerintah perbaiki dulu ya dari dunia pendidikannya,” ucapnya.
Pengangguran sarjana terus menjadi perhatian
Fenomena pengangguran terdidik dan kaum muda menjadi salah satu tantangan ketenagakerjaan yang perlu mendapat perhatian.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dalam laporan tersebut, jumlah sarjana yang menganggur meningkat dari sekitar 628.800 orang pada Agustus 2023 menjadi 1,03 juta orang pada Mei 2026.
Sementara itu, porsi lulusan Diploma IV, S1, S2, dan S3 terhadap total pengangguran nasional juga meningkat dari 12,12 persen pada Agustus 2023 menjadi 14,31 persen pada Mei 2026.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gelar pendidikan tinggi tidak lagi secara otomatis menjamin seseorang mudah memperoleh pekerjaan.
Kesesuaian kompetensi, pengalaman, keterampilan tambahan, serta ketersediaan lapangan kerja menjadi faktor penting yang turut menentukan kemampuan lulusan perguruan tinggi untuk masuk dan bertahan di dunia kerja.(SE)

