Kota Sukabumi

Perkuat Intervensi Gizi, Dinkes Kota Sukabumi Targetkan Stunting Turun 16 Persen

×

Perkuat Intervensi Gizi, Dinkes Kota Sukabumi Targetkan Stunting Turun 16 Persen

Sebarkan artikel ini

SUKABUMI — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi terus memperkuat upaya percepatan penurunan angka stunting melalui intervensi gizi yang berkelanjutan. Salah satu program yang saat ini menjadi perhatian adalah gerakan Satu Telur Satu Pegawai, yang menyasar balita dan ibu hamil dengan kondisi kekurangan energi kronis.

Kepala Dinkes Kota Sukabumi, Ida Halimah, menegaskan bahwa program tersebut bukan sekadar bentuk kepedulian aparatur, melainkan langkah strategis yang dirancang untuk meningkatkan asupan protein kelompok rentan stunting.

“Gerakan satu telur satu pegawai ini kami jalankan sebagai upaya nyata untuk mempercepat penurunan stunting, bukan hanya simbol semata,” ujar Ida kepada wartawan, Rabu (4/2/2026).

Baca Juga: DPW PKB Se-Indonesia Resmi Dilantik, Konsolidasi Nasional Dimulai

Ia menjelaskan, Dinkes telah menetapkan sasaran penerima manfaat secara jelas dan terukur. Total terdapat 232 penerima intervensi, yang terdiri dari balita dengan kondisi kekurangan energi kronis serta ibu hamil berisiko stunting.

“Sasarannya sudah kami petakan. Ada balita dan ibu hamil KEK yang memang membutuhkan intervensi gizi lebih intensif,” jelasnya.

Menurut Ida, bantuan telur hanya menjadi pintu masuk dari rangkaian program yang lebih luas. Dinkes juga menjalankan edukasi gizi, pemantauan tumbuh kembang balita, hingga pendampingan kesehatan secara rutin.
“Intervensi tidak berhenti pada pemberian telur. Kami kombinasikan dengan edukasi gizi dan pendampingan agar hasilnya benar-benar berdampak,” katanya.

Saat ini, angka stunting di Kota Sukabumi masih berada di kisaran 19,7 persen. Namun dengan penguatan program dan kolaborasi lintas sektor, Dinkes optimistis target penurunan stunting dapat tercapai sesuai rencana.

Baca Juga: Reses di Sagaranten, Ketua DPRD Sukabumi Serap Aspirasi Warga Desa

“Target kami pada 2026 angka stunting bisa turun menjadi 16 persen. Bahkan harapannya bisa lebih rendah dan mendekati angka nasional,” ungkap Ida.

Ia pun mengajak seluruh pihak untuk terlibat aktif dalam upaya penanganan stunting.

“Ini tidak bisa hanya dikerjakan oleh Dinkes saja. Perlu kerja bersama agar kualitas kesehatan generasi mendatang bisa lebih baik,” pungkasnya.