SUKABUMI – Setelah sempat menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat dan petugas pemadam kebakaran, pelaku penyebaran foto kebakaran hoaks di perempatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, akhirnya angkat bicara. Ia menyampaikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf secara terbuka menggunakan bahasa Sunda.
Pelaku diketahui bernama Ahmad Sawili, seorang konten kreator asal wilayah Pajampangan. Dalam pernyataannya, Ahmad mengakui bahwa foto kebakaran yang sebelumnya ia unggah dan sebarkan di media sosial bukanlah kejadian yang sebenarnya.
“Sampurasun warga Jabar, abdi klarifikasinya ngeunaan foto anu geger tur ku abdi dibagikan ngeunaan kebakaran di perempatan Waluran. Eta teh hoaks,” ucap Ahmad dalam klarifikasinya.
Baca Juga: Kasus Penemuan Mayat Tanpa Kepala di Sungai Ciracap Masih Misterius, Polisi Perketat Penyelidikan
Ia mengungkapkan bahwa foto tersebut ia peroleh dari sebuah grup media sosial, kemudian dibagikan ulang tanpa memastikan kebenaran informasi di dalamnya.
“Abdi nampi foto eta tina grup, tuluy ku abdi diposting ulang sareng dibagikan,” lanjutnya.
Unggahan tersebut berdampak luas hingga memicu keresahan dan membuat petugas Damkar melakukan pengecekan ke lapangan. Ahmad pun mengaku mendapat banyak reaksi keras setelah foto tersebut viral.
“Ka abdi seueur pisan nu masihan teguran dugi ka ancaman. Ku kituna ayeuna postingan tos abdi hapus,” katanya.
Baca Juga: PSM Makassar vs Bali United, Ujian Berat Tuan Rumah di Pekan ke-17 Liga 1
Dalam klarifikasinya, Ahmad menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya warga di wilayah Jampangkulon dan sekitarnya, serta jajaran pemadam kebakaran yang terdampak oleh informasi tidak benar tersebut.
“Abdi nyuhunkeun hapunten anu sakitu gedena, utamina ka warga Jampangkulon, Damkar Jampangkulon, Pelabuhanratu, Cibadak, Surade, sareng Ciemas,” ujarnya.
Baca Juga: Polres Sukabumi Hadirkan Layanan SIM Keliling di Lapang Bojong Kecamatan Cikembar
Ia juga berjanji tidak akan :mengulangi perbuatan serupa dan akan lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial sebagai sarana berbagi informasi.
“Mudah-mudahan ieu kajadian teu kapulang deui sareng abdi moal ngalakukeun deui hal sapertos kieu,” pungkas Ahmad.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya literasi digital di tengah maraknya arus informasi di media sosial, agar masyarakat tidak mudah menyebarkan konten yang belum jelas kebenarannya, khususnya terkait peristiwa darurat.

