Opini

Subuh Berjamaah: Masjid Sepi, Media Sosial Ramai

×

Subuh Berjamaah: Masjid Sepi, Media Sosial Ramai

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi suasana Subuh berjamaah dan pilihan manusia untuk bangun memenuhi panggilan Allah. (Foto: AI Chat GPT/Mulvi M Noor/Sukabumiku.id)

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ada sebuah fenomena menarik dalam kehidupan kita sebagai bangsa yang katanya religius. Masjid bisa sangat ramai ketika ada pejabat datang, pengajian akbar menghadirkan tokoh terkenal, atau ketika ada pembagian sembako. Tetapi untuk Subuh berjamaah, jumlah jamaah kadang lebih sedikit daripada jumlah orang yang sedang mengetik komentar politik di media sosial.

Ini tentu bukan masalah matematika.

Ini masalah prioritas.

Kita punya bangsa yang sangat rajin membicarakan moral, tetapi kadang malas bangun pagi untuk mempraktikkannya. Kita suka sekali mendiskusikan surga, tetapi ketika azan Subuh berkumandang, bantal terasa seperti bagian dari keluarga yang harus dilindungi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُول اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَقُوْلُ : (( مَنْ صَلَّى العِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ ، فَكَأنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ ، وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ في جَمَاعَةٍ ، فَكَأنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ )) رواه مُسْلِمٌ .

“Barang siapa yang melaksanakan shalat Isya berjamaah, maka seolah ia telah melaksanakan shalat separuh malam. Dan barang siapa yang melaksanakan shalat Shubuh berjamaah, maka seolah ia telah melaksanakan shalat semalaman penuh.”

(HR. Muslim no. 656)

Dalam riwayat Tirmidzi:

(( مَنْ شَهِدَ العِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ قِيَامُ نِصْفَ لَيلَةٍ ، وَمَنْ صَلَّى العِشَاءَ وَالفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ ، كَانَ لَهُ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ ))

“Siapa yang menghadiri shalat Isya berjamaah, maka baginya shalat separuh malam. Dan barang siapa yang melaksanakan shalat Isya dan Shubuh berjamaah, maka baginya seperti shalat semalaman.”

(HR. Tirmidzi no. 221; dinyatakan hasan shahih)

Hadis ini menarik karena menawarkan sebuah “investasi” yang sangat menguntungkan. Shalat Isya berjamaah, pahalanya seperti separuh malam. Isya dan Subuh berjamaah, seperti shalat semalam penuh.

Kalau ini diumumkan sebagai program investasi di televisi, mungkin sudah ada yang bertanya: “Return on investment-nya berapa persen, Pak?”

Tetapi Allah tidak sedang menawarkan saham.

Allah sedang menawarkan perubahan diri.

Masalahnya, manusia modern memang suka investasi, asal investasinya bukan melawan kemalasan.

Kita rela bangun pukul tiga pagi untuk mengejar tiket pesawat murah. Rela antre berjam-jam untuk konser. Rela menunggu flash sale. Rela begadang demi pertandingan sepak bola. Bahkan rela tidak tidur karena debat politik di WhatsApp.

Tetapi ketika azan Subuh terdengar, mendadak kita menjadi filsuf.

“Allah pasti memahami kondisi saya.”

Tentu Allah memahami.

Allah juga memahami bahwa lima menit sebelum tidur kita masih sanggup menonton video pendek yang jumlahnya sudah tidak pendek lagi.

Di situlah masalahnya.

Kita sering meminta Allah memahami kita, tetapi kita jarang bertanya apakah kita sudah sungguh-sungguh berusaha memahami panggilan-Nya.

Al-Qur’an mengatakan:

إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

“Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”

(QS. Al-Isra: 78)

Subuh adalah waktu ketika malaikat menyaksikan.

Tetapi kita kadang lebih sibuk memastikan bahwa manusia menyaksikan.

Kita bangun pagi untuk mengunggah aktivitas.

Bangun pagi untuk mengejar engagement.

Bangun pagi untuk membuat konten.

Bangun pagi untuk membaca berita politik.

Tetapi untuk menghadap Allah, alarm sudah berbunyi tiga kali dan tangan kita tetap melakukan tugas mulia: menekan tombol snooze.

Begitulah manusia.

Untuk dunia, kita punya disiplin.

Untuk Allah, kita sering punya alasan.

Dan kalau mau lebih jujur, persoalannya bukan sekadar Subuh.

Subuh hanyalah cermin.

Ia memperlihatkan siapa diri kita ketika tidak ada penonton.

Di siang hari, kita bisa memakai berbagai macam identitas. Bisa menjadi orang saleh, intelektual, aktivis, pejabat, pengusaha, akademisi, tokoh masyarakat, bahkan komentator kehidupan bangsa.

Tetapi pukul empat pagi, semua atribut itu dicopot.

Yang tersisa hanya manusia dengan selimut.

Tidak ada jabatan.

Tidak ada gelar.

Tidak ada followers.

Tidak ada buzzer.

Tidak ada tim sukses.

Tidak ada kamera.

Hanya kita dan Allah.

Barangkali itulah sebabnya Subuh berjamaah terasa berat.

Karena ia tidak memberi ruang terlalu besar untuk pencitraan.

Di masjid, seorang pejabat dan seorang tukang gorengan bisa berdiri dalam satu saf. Gelar akademik tidak membuat rakaatnya lebih panjang. Kekayaan tidak membuat takbirnya lebih tinggi. Jabatan tidak membuat sujudnya lebih dekat kepada Allah.

Di depan kiblat, demokrasi paling sederhana sebenarnya sudah berlangsung.

Semua berdiri.

Semua menghadap arah yang sama.

Semua mengikuti imam.

Dan tidak ada yang boleh mendahului imam hanya karena merasa dirinya lebih pintar.

Kalau prinsip ini dibawa ke kehidupan berbangsa, mungkin banyak persoalan politik kita bisa lebih sederhana.

Bayangkan kalau para elite politik benar-benar belajar dari saf shalat.

Mereka akan tahu bahwa berada di depan bukan berarti boleh semaunya.

Mereka akan tahu bahwa yang menjadi imam harus diikuti selama benar, tetapi jika salah harus diingatkan.

Mereka akan tahu bahwa manusia tidak menjadi lebih mulia hanya karena berdiri paling depan.

Dan yang paling penting: setelah selesai memimpin, imam kembali menjadi manusia biasa.

Tidak ada yang membawa mimbar pulang.

Sayangnya, dalam kehidupan politik, kadang kursi justru dianggap seperti sajadah yang harus dipertahankan sampai akhir hayat.

Jabatan yang seharusnya amanah berubah menjadi properti pribadi.

Kekuasaan yang seharusnya pelayanan berubah menjadi warisan.

Dan rakyat kadang hanya dipanggil ketika musim pemilu tiba.

Saat itu rakyat mendadak menjadi “yang mulia”.

Setelah pemilu selesai, kemuliaannya kadang ikut selesai.

Ironisnya, orang yang rajin berbicara tentang persatuan bangsa bisa lupa menyapa tetangga hanya karena berbeda pilihan politik.

Orang yang sangat fasih berbicara tentang ukhuwah bisa memutus pertemanan gara-gara berbeda kandidat.

Orang yang paling keras meneriakkan “NKRI harga mati” kadang tidak tahan melihat saudaranya berbeda pendapat.

Padahal di masjid, kita berdiri dalam satu saf tanpa terlebih dahulu bertanya:

“Pak, nyoblos siapa?”

Tidak ada verifikasi partai sebelum takbir.

Tidak ada pemeriksaan ideologi sebelum sujud.

Tidak ada formulir: “Anda kelompok mana?”

Allah hanya memanggil.

Dan manusia datang.

Sederhana.

Mungkin kita perlu menghidupkan kembali semangat itu.

Sebab shalat berjamaah bukan hanya mengumpulkan tubuh di dalam masjid. Ia seharusnya mengumpulkan hati yang tercerai-berai di luar masjid.

Kalau setelah Subuh kita masih mudah menghina orang lain, mungkin kita baru membawa tubuh ke masjid, belum membawa akhlak.

Kalau setelah shalat kita masih gemar memfitnah, mungkin sajadah sudah kita lipat, tetapi kesombongan belum.

Kalau setelah takbir kita masih merasa diri paling benar, mungkin kita belum sepenuhnya memahami arti “Allahu Akbar”.

Sebab ketika kita mengatakan “Allah Mahabesar”, sesungguhnya kita sedang mengatakan bahwa ego kita kecil.

Jabatan kita kecil.

Kekayaan kita kecil.

Popularitas kita kecil.

Kekuasaan kita kecil.

Bahkan kebencian kita pun seharusnya kecil.

Yang besar hanya Allah.

Maka mari kita mulai dari sesuatu yang sangat sederhana: Isya berjamaah, lalu berusaha menjaga Subuh berjamaah.

Bukan agar kita bisa merasa lebih saleh daripada orang yang belum datang.

Jangan sampai selesai Subuh kita malah membuat ranking kesalehan tetangga.

Itu namanya sudah mengerjakan ibadah sekaligus membuka lowongan menjadi Tuhan.

Dan itu pekerjaan yang tidak pernah diminta Allah.

Datanglah ke masjid dengan kesadaran bahwa kita semua sedang belajar.

Pejabat belajar menjadi hamba.

Rakyat belajar menjadi hamba.

Dosen belajar menjadi hamba.

Mahasiswa belajar menjadi hamba.

Orang kaya belajar menjadi hamba.

Orang miskin belajar menjadi hamba.

Orang yang merasa paling pintar juga belajar menjadi hamba.

Karena pada akhirnya, gelar kita akan ditinggalkan di dunia, jabatan akan selesai, kekuasaan akan berganti, followers akan hilang, dan semua nama yang hari ini terasa penting akan menjadi catatan sejarah yang mungkin hanya dibaca oleh beberapa orang.

Tetapi shalat kita?

Itulah yang akan kita pertanggungjawabkan.

Jadi, kalau besok pagi azan Subuh terdengar, jangan terlalu lama bernegosiasi dengan bantal.

Bantal tidak pernah membawa kita ke surga.

Paling jauh ia membawa kita kembali tidur.

Dan siapa tahu, ketika kita memilih bangun untuk memenuhi panggilan Allah, malaikat sedang mencatat satu kemenangan kecil: kemenangan seorang manusia atas dirinya sendiri.

Itulah kemenangan yang tidak perlu konferensi pers.

Tidak perlu baliho.

Tidak perlu buzzer.

Tidak perlu trending topic.

Cukup Allah yang tahu.

Dan mungkin, justru karena tidak ada manusia yang tahu, di situlah letak kejujurannya.

Wallahu ‘alamu